SERBUAN Kerajaan Mataram ke Banten dilakukan di masa Sultan Amangkurat I. Serbuan itu konon merupakan bagian dari memanasnya hubungan antara Banten dan Mataram. Angkatan laut dan darat pun disiapkan oleh Kesultanan Mataram.
Mataram mengirimkan angkatan laut yang konon berkekuatan 40.000 orang. Dari jumlah tersebut, 10.000 di antaranya dilengkapi dengan senjata lengkap. Sisanya dikatakan hanya sebagai tukang pukul saja, akan berbaris melalui darat ke Karawang, angkatan laut akan menyediakan kuda bagi mereka.
Bagi yang tidak membawa senjata harus membuat jalan melalui daerah pegunungan ke Banten dan memikul bahan-bahan perbekalan. Kemudian diterima berita bahwa tujuan mereka adalah Padia Jarangh yang berada di sebelah selatan Batavia, yaitu Pajajaran dekat Bogor.
H.J. De Graaf pada "Disintegrasi Mataram : Dibawah Mangkurat I", mengisahkan bagaimana ekspansi peperangan Mataram itu sempat membuat khawatir Batavia. Setelah pada tanggal 27 Oktober 1657 kapiten tua bagi orang Jawa di Batavia menemukan armada yang terdiri dari 40 sampai 50 kapal Jawa di depan Karawang dan mengirimkan berita tentang ini kepada Pemerintah Belanda.
Keesokan harinya pejabat keuangan Wijnand Rutgers dikirim ke sana. Pada tanggal 29 Oktober 1657 sudah dijumpainya di dekat Karawang sebuah kapal Jawa, yang menyampaikan berita pertama kepadanya tentang armada Mataram. Pembantu Letnan Pieter Thonissen, yang dikirim ke sana, menemukan di muara kira-kira 27 kapal.
Mereka diterima dengan sangat hormat, walaupun permintaan pelurunya ditolak orang Belanda. Orang-orang Jawa itu menjelaskan, bahwa orang Belanda dianggap sudah menjadi saudara, dan tindakan tidak tertuju pada orang-orang Jawa, tetapi terhadap orang-orang Banten.