Kala Soeharto Ditangkap Pasukan Siliwangi, Dikira Perwira Simpatisan Kiri

Tim Okezone, Jurnalis
Kamis 08 Juni 2023 06:05 WIB
Presiden RI Soeharto (foto: dok ist)
Share :

JAKARTA - Dalam buku ‘Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia’s Second President’ karya Retnowati Abdulgani-Knapp. Mayor Soeharto, turut ambil bagian dalam Palagan Ambarawa yang meletus pada 20 November 1945.

Penyerangan Soeharto di Ambarawa dan Banyubiru pun sukses, hal itu menarik pujian Komandan Divisi V/Purwokerto, Kolonel Gatot Soebroto.

Sukses Soeharto itu juga memancing sanjungan lanjutan dari Panglima TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Soedirman, yang baru dipromosikan jadi Jenderal pada Desember 1945. Soedirman kemudian menghadiahi Soeharto dengan pangkat Overste (Letkol) dan membawahi Resimen III Yogyakarta.

Tak lama, Soeharto kemudian mengomandoi Brigade Mataram di Yogyakarta. Nama Soeharto yang dikemudian hari dikenal dengan julukan “The Smiling General” itu juga menjulang pada peristiwa Serangan Oemoem 1 Maret 1949.

Namun, Soeharto sempat tertimpa kejadian buruk ditawan “teman” sendiri. Jelang Pemberontakan PKI Madiun 1948, Soeharto sempat dikira perwira simpatisan kiri oleh Pasukan Siliwangi.

Penangkapan Soeharto itu terjadi tak lama setelah kembali dari Madiun. Soeharto datang ke Madiun untuk mengecek sendiri soal isu pemerintahan Soviet di Madiun. Saat ke Madiun, Soeharto diyakinkan Soemarsono bahwa di Madiun hanya bendera merah-putih yang berkibar.

Soeharto juga sempat bertanya pada pembesar Partai Komunis Indonesia (PKI), Musso soal apakah Musso masih menginginkan persatuan untuk menghadapi Belanda.

“Ya, sampaikan (saya ingin bersatu). Tapi terus terang saja Bung Harto, kalau saya akan dihancurkan, saya akan melawan,” seru Musso pada Soeharto.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya