Terjadinya degradasi lahan dan kekeringan tentu berpengaruh pada kehidupan manusia. Manusia dan makhluk hidup lainnya akan merasakan dampak buruk dan bahayanya, di mana pun mereka berada. Tantangan serius bagi pembangunan berkelanjutan ini, mau tak mau, harus disadari oleh seluruh individu dan ditanggulangi bersama-sama. Oleh karena itulah The World Day to Combat Desertification and Drought diperingati masyarakat dunia setiap tanggal 17 Juni.
Pada 2023, tema yang diangkat pada peringatan ini adalah “Her Land. Her Rights: Advancing Gender Equality and Land Restoration Goals” atau “Tanahnya. Haknya: Memajukan Kesetaraan Gender dan Tujuan Restorasi Lahan”, dengan fokus kepada hak perempuan atas tanah.
Sekretaris Eksekutif UNCCD Ibrahim Thiaw mengatakan, tema tersebut didasari adanya ketimpangan akses perempuan terhadap lahan subur.
Berdasarkan studi yang dilakukan UNCCD, hampir separuh tenaga kerja pertanian global saat ini adalah perempuan. Namun, jika bicara tentang pemilik tanah, perempuan hanya tercatat kurang dari satu dari lima pemilik tanah di seluruh dunia. Karena itu, individu, berbagai komunitas internasional, dan pemerintah negara diharapkan dapat mendukung hak-hak perempuan atas tanah melalui peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia kali ini.
Terpenuhinya perempuan atas tanah, menurut UNCCD, adalah hal penting dalam mencapai tujuan global yang saling terkait tentang kesetaraan gender dan netralitas degradasi lahan pada 2030 dan berkontribusi pada kemajuan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) lainnya.
(Rahman Asmardika)