JAKARTA - Sebanyak puluhan jenis kemasan diizinkan dan digunakan sebagai pembungkus makanan minuman, termasuk aneka jenis kemasan plastik. Semuanya itu memiliki risiko karena terbuat dari zat kimia.
Kepala Center For Entrepreneurship, Tourism, Information and Strategy Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto meminta regulator untuk tidak boleh bersikap diskriminatif dengan hanya menyorot potensi bahaya satu jenis kemasan satu jenis kemasan saja.
Seperti Polikarbonat (PC), tanpa melakukan transparansi bahaya untuk jenis kemasan lain seperti kemasan plastik PET yang digunakan untuk galon sekali pakai.
“Tapi, pada tahu nggak kalau bahan pembuatan galon sekali pakai atau yang PET itu juga mengandung etilen glikol yang kemarin lagi ramai mencemari obat batuk,” ujarnya, Jumat (23/6/2023).
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Sahid Jakarta ini memberikan beberapa contoh seperti pada kasus sirup obat batuk dan isu BPA berbahaya galon guna ulang. Dia juga melihat perlakukan serupa di mana tidak ada transparansi terkait masalah ini.
Secara aspek kimia, dia mengaku tidak tahu sama sekali mengenai zat-zat kimia dalam kemasan pangan ini. Namun, dari ilmu komunikasi, dia mengatakan bahwa ada ketidaktransparanan regulator dalam mempublikasikan hasil risetnya terhadap zat-zat kimia berbahaya yang ada dalam kemasan pangan seperti kasus etilen glikol yang terjadi baru-baru ini.