Padahal, pria kelahiran 14 Oktober 1921 merupakan tokoh yang turut mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ia pernah ditangkap polisi Belanda dan karena pernah berteman dengan salah satu perwira Belanda. Hoegeng tetap diperlakukan dengan baik. Dalam penangkapan itu, ia ditawari untuk membelot.
“Saya putra Indonesia, mustahil bagi saya bersikap lain!,” kata Hoegeng menolak rayuan Belanda, sebagaimana dikutip buku ‘Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa’.
Saat Ibu Kota Yogyakarta diserang Belanda via Agresi Militer II, Hoegeng memilih bertahan di dalam kota. Hoegeng berperan aktif mengumpulkan informasi dan data intelijen dari dalam kota yang diperlukan TNI, di bawah komando Soekarno Djojonegoro. Meski dirinya tak ikut bergerilya.
Bahkan, Hoegeng menyamar sebagai pelayan di sebuah restoran yang sedianya, tak jauh dari rumahnya di Jalan Jetis, Yogyakarta. Pengalamannya itu sering kembali dilakoni, termasuk ketika sudah menjabat Kapolri jelang sidak ke berbagai tempat.
Pada usia 82 tahun, Hoegeng wafat, tepatnya 14 Juli 2004. Hoegeng tutup usia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo akibat penyakit stroke dan jantung.
Hoegeng dikebumikan di Pemakaman Umum Giri Tama, Bogor. Sebab, dirinya berwasiat, tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
(Arief Setyadi )