Momen Raja Sunda Langgar Tradisi Lokal saat Nikahkan Putrinya dengan Hayam Wuruk

Avirista Midaada, Jurnalis
Sabtu 01 Juli 2023 06:02 WIB
Raja Hayam Wuruk (foto: dok wikipedia)
Share :

PERANG BUBAT menjadi salah satu penyebab menurunnya kejayaan Kerajaan Majapahit. Perang ini terjadi antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda. Saat itu posisi Kerajaan Sunda memang masih menjadi kerajaan yang berdiri sendiri alias belum berhasil dikuasai Majapahit.

Padahal Majapahit semenjak Raja Tribhuwana Tunggadewi telah menggaungkan penyatuan nusantara melalui politik yang dicetuskan Mahapatih Gajah Mada. Dari cita-cita Gajah Mada itu pula muncullah Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada saat pertama kali dilantik semasa Raja Tribhuwana Tunggadewi berkuasa.

Sementara Perang Bubat terjadi ketika Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk. Sedangkan Sunda kala itu konon dipimpin oleh Maharaja Linggabuana Wisesa. Tafsiran ini berdasarkan kisah pada "Perang Bubat 1279 Saka : Membongkar Fakta Kerajaan Sunda vs Kerajaan Majapahit", tulisan Sri Wintala Achmad, yang menyebut sejarawan pasca Prabu Ragamulya Luhurprabawa memerintah antara tahun 1340 - 1350 dikuasai oleh Maharaja Linggabuana Wisesa yang naik tahta pada 1350 - 1357. Berdasarkan Carita Parahyangan, Linggabuana Wisesa memiliki putri bernama Dyah Pitaloka Citraresmi.

Sebagai raja yang memiliki hubungan persaudaraan dengan Majapahit, Maharaja Linggabuana Wisesa merestui Hayam Wuruk menikahi putrinya yakni Dyah Pitaloka Citraresmi. Bahkan demi mempererat hubungan kedua kerajaan itu, Linggabuana Wisesa bersedia menikahkan putrinya di Majapahit.

Tidak dilangsungkan di Sunda sebagaimana disarankan oleh Patih Amangkubhumi Hyang Bunisora Suradipati dan tradisi perkawinan setempat. Di mana pernikahan harus dilangsungkan di tempat seorang pengantin wanita. Namun di luar dugaan Maharaja Linggabuana Wisesa bahwa tempat pernikahan Dyah Pitaloka dan Hayam Wuruk yang disampaikan oleh Madhu hanya siasat Gajah Mada.

Mahapatih Amangkubhumi Majapahit tersebut memiliki tujuan agar Linggabuana Wisesa menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai tanda takluk Sunda pada Majapahit, bukan sebagai pengantin Hayam Wuruk. Akibat benturan kepentingan politis antara Maharaja Linggabuana Wisesa dan Gajah Mada, maka pecahlah perang yang berlangsung di pesanggrahan atau lapangan Bubat. Karenanya perang antara rombongan pengantin Sunda dan pasukan Bhayangkara Majapahit tersebut dikenal dengan Perang Bubat.

Hal paling tidak diduga oleh Maharaja Linggabuana Wisesa bahwa Perang Bubat itu bukan hanya menewaskan seluruh rombongan pengiring pengantin Sunda, permaisuri, dan bunuh dirinya Dyah Pitaloka Citraresmi. Namun pula membuatnya dirinya gugur di medan laga.

Pasca-Perang Bubat, pemerintahan Linggabuana Wisesa sebagai raja Sunda berakhir pada tahun 1357. Sebagai penggantinya adalah Patih Amangkubhumi Bunisora Suradipati (1357-1371). Namun kedudukannya sebagai raja Sunda sekadar mewakili Niskala Wastu Kancana atau putra Maharaja Linggabuana Wisesa) yang masih berusia belia. Sesudah Niskala Wastu Kancana telah cukup usia, Bunisora Suradipati turun takhta. Sebagai raja Sunda selanjutnya adalah Niskala Wastu Kancana naik tahta pada 1371-1475.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya