PARIS - Polisi Prancis menangkap 16 orang semalam sehubungan dengan kekerasan dan kerusuhan di perkotaan, kata kementerian dalam negeri pada Rabu, (5/7/2023), yang semakin menuinjukkan berkurangnya skala kerusuhan yang melanda pinggiran Prancis yang miskin setelah penembakan fatal remaja 17 tahun oleh polisi di Nanterre, pinggiran Paris pekan lalu.
Prancis Dilanda Rusuh Besar-besaran, DPR RI Usulkan Pemerintah Terbitkan Travel Warning
Kematian Nahel M., seorang remaja keturunan Afrika Utara pada 27 Juni, menyebabkan luapan kemarahan yang menyebabkan malam kerusuhan nasional dan tindakan keras polisi.
Pada puncak kerusuhan, pada Jumat, (30/6/2023) hingga Sabtu, (1/7/2023) malam, polisi menangkap lebih dari 1.300 orang. Situasi mulai mereda pada Minggu, (2/7/2023) dan pada Senin, (3/7/2023) hingga Selasa, (4/7/2023) malam, polisi menangkap 81 orang, menurut kementerian sebagaimana dilansir Reuters.
Kerusuhan tersebut mengungkap polarisasi mendalam masyarakat Prancis pada isu-isu seperti integrasi, atau ketiadaan integrasi, etnis dan agama minoritas, dan tentang bagaimana nilai-nilai republik harus dipahami di Prancis kontemporer.
Pemerintah dan politisi sayap kiri telah mengecam para perusuh dan menyatakan dukungan kuat kepada polisi.
Sebaliknya, partai-partai sayap kiri dan banyak warga menyoroti rasisme dan marjinalisasi yang dialami oleh generasi muda Prancis keturunan imigran di pinggiran kota yang miskin dan masalah kekerasan dan impunitas polisi.