Agresi Militer I, Ancaman Belanda ke Indonesia: Menyerah atau Perang Total

Arief Setyadi , Jurnalis
Jum'at 21 Juli 2023 06:09 WIB
Tentara Belanda jelang Agresi Militer I (Foto: Wikipedia)
Share :

Sikap Sjahrir yang menolak menjadi “trigger” atau pemicu tersendiri buat Kepala Staf pasukan Belanda Jenderal Simon Hendrik Spoor, untuk meluncurkan serangan total yang tentunya sesuai instruksi dari Den Haag.

Rencana Spoor sempat tersendat karena akhirnya Sjahrir bertekuk lutut pada tuntutan tersebut. Kabinet Sjahrir pun tumbang karena tak lagi dipercaya rakyat.

Sementara Belanda kembali melayangkan ultimatum pada 15 Juli 1947 dengan tuntutan pasukan TNI mundur 10 kilometer dari garis demarkasi. Karena PM Amir Sjarifoeddin yang menggantikan Sjahrir tak memberi jawaban, meletuslah ofensif Belanda yang pertama ke berbagai wilayah RI di Sumatera dan Jawa pada 21 Juli 1947.

Pemerintah tetap berjuang di arena diplomasi terlepas dari sejumlah kejadian yang terjadi dalam agresi tersebut. Sjahrir dan H. Agus Salim diutus ke Sidang Dewan Keamanan PBB, di mana akhirnya diputuskan Belanda harus menghentikan serangan pada 1 Agustus dan gencatan senjata sudah harus terjadi tiga hari setelahnya.

Sementara Spoor secara pribadi sangat ingin meneruskan gerak ofensif pasukannya hingga Yogyakarta yang kala itu jadi Ibu Kota RI. Namun, ditentang pemerintah sipil Belanda, seperti termaktub dalam buku ‘Kontroversi Serangan Umum 1 Maret 1949’, Spoor bercita-cita menguasai Yogyakarta yang kelak baru bisa dilakukannya pada Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948.

Ada fakta menarik jelang Agresi Militer I, karena markas Tentara Belanda melancarkan psywar kepada tentaranya sendiri. Mereka menyebarkan selebaran yang tercatat dikeluarkan di Batavia (kini Jakarta) tertanggal 27 Mei 1947, bersamaan dengan keluarnya nota pemerintah Belanda kepada RI.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya