”Ada mayat di semua tempat dan kapan ibu-ibu akan berjalan mencari anak-anaknya, dia kadang-kadang akan mendengar teriakan yang memanggil 'ibu ... ibu ...’,” terangnya.
”Tapi, jika mereka melihat wajah anak-anaknya, mereka tidak bisa mengenalinya. (Padahal) anak-anak itu mengenal ibu mereka,” lanjutnya.
Dikutip Sindonews, orang-orang seperti Kuwabara yang hidup di Jepang disebut sebagai Hibakusha. Itu adalah istilah bagi mereka yang terkena radiasi dari bom nuklir.
Kuwabara yang diwawancarai Russia Today, Kamis (6/8/2015) menunjukkan Museum “Hiroshima Peace Memorial”. Di museum itu ditampilkan potret kengerian pemboman nuklir, baik dampak kerusakan maupun ekspresi orang-orang yang sekarat dan meninggal oleh bom.
”Ini membuat saya menderita untuk melihat foto-foto ini. Orang yang menderita. Saya pikir mereka semua mati,” katanya saat melihat foto-foto yang ada di museum.
Meski sudah lewat 70 tahun, Kuwabara merasa kecewa dengan Pemerintah AS yang saat ini dipimpin Presiden Barack Obama.
”Dia (Obama) mengatakan, bahwa ia akan mengurangi senjata nuklir. Sebaliknya ia meningkatkannya. Apa pun kata-kata indah atau tindakan yang dilakukannya, saya pikir Amerika tidak bertindak dengan ketulusan. Setidaknya dia harus datang ke Hiroshima dan Nagasaki serta memberikan penghormatan,” tambahnya.
(Susi Susanti)