PERISTIWA pemberontakan Partai Komunis Indonesia/Front Demokrasi Indonesia (PKI/FDR) di Madiun menyisakan banyak kisah kelam. Salah satunya seorang pelajar serta atlet peraih emas Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama 1948 turut tewas dibunuh secara sadis.
Dan yang membuat peristiwa itu lebih tragis, penembak si pelajar adalah kakaknya sendiri.
Seperti dikutip dari buku ‘Sejarah Daerah Jawa Timur’, dalam pemberontakan dengan mendirikan Republik Soviet Indonesia itu, para simpatisan sayap kiri merebut sejumlah jabatan pemerintahan dari tangan para pegawai pemerintah.
Tapi, di dalam kota masih ada sejumlah elemen pendukung pemerintahan Republik Indonesia dari unsur pelajar, setelah sebelumnya sejumlah anggota TNI dari Divisi Siliwangi berhasil dilucuti PKI/FDR.
Masih ada unsur TRIP – Tentara Republik Indonesia Pelajar, yang bertahan di asrama. Asrama TRIP yang kini jadi gedung SMPN 2 Madiun itu pun turut diserbu FDR/PKI pada suatu siang, 22 September 1948.
Moeljadi yang kala itu bertugas jaga di asrama tewas ditembak senapan. Makin ironis, penembakan dilakukan oleh kakak kandungnya sendiri.
Selain ditembak, tubuh Moeljadi juga ditusuk-tusuk sangkur untuk memastikan sudah tewas. Sementara sisa anggota TRIP lainnya ditangkapi.
Jelas pembunuhan para pelajar pejuang itu memicu amarah sejumlah anggota TRIP lain, serta para pelajar di Kota Madiun. Para pelajar bahkan terang-terangan membentuk gerakan Pelajar Anti Musso (PAM), dengan menyebar selebaran anti PKI pimpinan Musso dan Amir Sjarifoeddin.