Oleh karena itu, Ardha menyebutkan faktor disversi terjadi akibat lapisan inversi yang marak muncul saat musim kemarau. Adapun yang dimaksud faktor dispersi adalah suatu proses pergerakan kontaminan melalui udara sehingga menyebarkannya ke area yang luas dan konsentrasi menjadi berkurang.
"Jadi ketika pagi di bawah permukaan ini (dataran) lebih dingin daripada di atas (langit). Sehingga itu mencegah udara itu untuk naik dan kemudian terdispersi," jelas Ardha.
"Itu penjelasan mengapa Jakarta kelihatan keruhnya di bawah dibandingkan di atas karena setting perkotaannya dimana kita hidup bersama," pungkasnya.
(Awaludin)