JAKARTA - Peran orang tua dalam pembentukan karakter dan potensi individu adalah sangat besar. Hal ini sangat berlaku bagi individu dengan kebutuhan khusus, dimana pendidikan dan dukungan orang tua dapat menjadi kunci untuk mereka dapat berkontribusi dalam masyarakat. Angkie Yudistira, memberikan perspektif penting tentang peran orang tua dan pelajaran positif yang didapatkan.
"Support system nomer 1 itu jelas orang tua. Orang tua memiliki peran penting dalam membangun fondasi karakter dan penerimaan diri bagi anaknya, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus. Pelajaran pertama yang dia dapatkan dari orang tuanya adalah tentang penerimaan diri. Mereka menerima diriku apa adanya sehingga aku bisa menerima apa adanya," ujarnya dalam Special Dialogue Okezone, pada kamis (17/08/2023).
Namun, tidak semua orang tua memiliki pemahaman yang sama. Angkie mencatat bahwa masih banyak orang tua yang menganggap anak dengan kebutuhan khusus sebagai aib bagi keluarga.
Mereka cenderung untuk membatasi interaksi anak mereka dengan dunia luar karena rasa malu. Sebaliknya, orang tua Angkie memberinya kebebasan untuk belajar dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
"Ketulusan dan kejujuran menjadi prinsip penting dalam proses ini. Aku belajar itu dari orang tuaku bahwa kita itu harus jujur dengan diri kita sendiri sehingga orang lain itu tau harus bersikap seperti apa kepada kita. Kejujuran ini memungkinkan Angkie untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa rasa takut atau malu," katanya.
Dukungan orang tua juga menjadi penentu dalam peningkatan pendidikan Angkie. "Aku belajar apa adanya sehingga membuat orang tuaku yang selalu mendukung apapun keputusan aku... aku bisa sampai S2 alhamdulillah dan itu diizinin penuh sama orang tua aku," ujarnya.
Dalam hal ini, orang tua berperan sebagai fasilitator dalam memenuhi kebutuhan pendidikan anak mereka. Dari pengalaman pribadinya, Angkie belajar bahwa kemajuan individu sangat tergantung pada kepercayaan dan dukungan dari orang tua.
"Kita bisa maju ketika orang tua itu percaya sama kita," ucapnya.
Dengan dukungan dan kepercayaan orang tua, individu berkebutuhan khusus bisa mengeksplorasi potensi mereka dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Di masa depan, Angkie berharap untuk berkontribusi dalam bidang edukasi. Menurutnya, permasalahan utama penyandang disabilitas adalah kualitas pendidikan. "What the next, aku ingin berada di bidang edukasi dan berharap mungkin suatu saat mungkin aku punya lembaga pelatihan," tuturnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa Angkie melihat pendidikan sebagai kunci utama untuk membantu penyandang disabilitas mengembangkan kapabilitas mereka dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Ia juga mengakui peran penting edukasi dalam membantu penyandang disabilitas untuk meraih derajat yang lebih tinggi dan menjadi lebih dewasa dalam berpikir, bersikap, dan bertindak.
Dalam perjalanannya, Angkie telah mengalami banyak tantangan dan pencapaian. Namun, ia tetap mengakui bahwa peran orang tua dan pelajaran positif yang didapatkannya adalah faktor kunci dalam mencapai apa yang telah ia capai. Dengan semangat dan keberanian ini, Angkie berkomitmen untuk terus mendorong hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas di Indonesia.
(Khafid Mardiyansyah)