Prabu Jayabaya Ramal Sosok Satria Piningit Sang Penyelamat yang Dijanjikan, Ini Ciri-Cirinya!

Nanda Aria, Jurnalis
Jum'at 18 Agustus 2023 06:07 WIB
Ramalan Jayabaya soal Satria Piningit/Foto: Istimewa
Share :

 

JAKARTA – Prabu Jayabaya meramalkan akan datangnya sosok penyelamat yang dijanjikan, yaitu seorang “Satria Piningit”. Ramalan itu tertuang dalam beberapa serat, seperti Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya.

Tak hanya itu, ramalan Raja Kediri Prabu Jayabaya (1135-1159) juga terdapat di Babad Tanah Jawi.

 BACA JUGA:

"Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit," jelas Masud Thoyib Adiningrat, Budayawan Jawa yang juga Pengageng Kedaton Jayakarta.

Dalam bait naskahnya, Jayabaya menyebutkan ciri-ciri sosok Satria Piningit:

"Akan ada dewa tampil berbadan manusia berparas seperti Batara Kresna berwatak seperti Baladewa bersenjata trisula wedha (bait 159)"

"Akan ada dewa berbadan manusia”: menyebutkan bahwa Satria Piningit berwujud seperti kita manusia biasa, tetapi sejatinya beliau adalah dewa. untuk mengetahui sejatinya seseorang tidaklah mudah, kecuali sesamanya atau lebih tinggi derajatnya. itulah yang menyebabkan Satria Piningit," papar Masud.

 BACA JUGA:

Dia menjelaskan bahwa Satria Piningit memiliki paras tampan seperti seorang dewa, berwatak tegas.

"Menyebutkan bahwa paras Satria Piningit itu seperti Batara Kresna (tampan, berwibawa) dan berawatak tegas seperti Baladewa," terangnya.

Sementara terkait kata “bersenjata trisula wedha," dia menduga itu merupakan sebuah kiasan.

“Bersenjata trisula wedha, untuk kalimat yang satu ini sepertinya di maknai secara tersirat, karena tidaklah mungkin Satria yang dipingit itu membawa trisula ke mana-mana, akan terlihat mencolok yang menyebabkan dirinya tidak piningit lagi," tambah dia.

 BACA JUGA:

Dijelaskannya, pemaknaan Trisula Wedha secara garis besar bisa di maknai tiga jadi satu, seperti ilmu amal dan iman, atau bumi langit dan isinya, kiri, kanan, dan tengah. Hal ini sesuai dengan sifat-sifat mulia yang lekat dengan banyak dewa-dewa Hindu.

Ramalan Jayabaya ini kemudian digubah oleh Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802-1873), pujangga besar keraton Solo.

(Nanda Aria)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya