JAKARTA - Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian mengungkap terdapat 376 dugaan kebocoran data sektor infrastruktur informasi vital. Hal ini disampaikan dalam rapat kerja pembahasan revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) bersama Komisi I DPR, Selasa (22/8/2023).
Hinsa menyampaikan bahwa hal ini terjadi karena tingkat pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang tinggi ini berbanding lurus dengan risiko dan ancaman keamanannya. Bahkan pada medio 2022 hingga Juni 2023.
"Di mana terdapat 250 kasus pada tahun 2022 dan 126 kasus pada tahun 2023. Dalam konteks ini yang ingin kami tekankan adalah bahwa BSSN mampu mendeteksi 127 kasus melalui darkweb sebelum menjadi viral di ranah publik," kata Hinsa dalam paparannya.
Saat ini, kata dia, ancaman di ruang siber bersifat hybrid, yaitu mengontrol informasi, spionase, dan sabotase. Sifat serangannya bersifat teknis, yaitu menyerang sistem elektronik itu sendiri. Kemudian serangan bersifat sosial, yang menyerang orang atau manusia yang berinteraksi di ruang siber.
Dari setiap kasus tersebut, BSSN telah memberikan notifikasi kepada penyelenggara sistem elektronik. Namun, sebagian besar notifikasi tersebut tidak ditindaklanjuti dan menunjukkan tingkat kepatuhan penyelenggaran sistem elektronik yang masih rendah.