Soejono menempuh Sekolah Dasar (SD) di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) sebuah sekolah yang ada pada zaman penjajahan Belanda. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke sekolah teknik.
Pada zaman Belanda sekolah teknik itu bernama K.E.S, kini berganti nama menjadi SMK 1 Surabaya.
Dulu Widjojo Soejono sempat satu kelas dengan Soewoto Sukendar dan Widodo Budidarmo. Di masa depan Soewoto Sukendar menjabat sebagai Kepala Staf TNI, sementara Widodo Budidarmo menjadi Kapolri.
Pada usia 17 tahun, Widjojo Soejono tergugah untuk bergabung dengan Perwira Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor tahun 1945.
Sampai-sampai ia meninggalkan bangku sekolahnya. Dari sinilah ia memulai awal karier dalam dunia kemiliteran.
Setelah PETA bubar jelang proklamasi barulah ia membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) bersama seniornya, Soehardjo di Kota Surabaya. Widjojo Soejono mengaku setahun lebih tua, padahal usianya baru 17 tahun. Ia kemudian mendapat tugas sebagai staff Resimen 33.
Widjojo Soejono terbilang sudah kenyang dengan pengalaman bertempur. Sejumlah jabatan penting Korp Baret Merat telah ia emban seperti Kepala Staf Resimen Para Komando (RPKAD) (1959-1961) dan Komandan Puspassus AD atau Kopassus (1967-1970).
Widjojo Soejono tutup usia pada Rabu, (11/05/23) lalu di usianya yang ke 94. Kepergian sang Jenderal TNI dikonfirmasi langsung oleh Johannes Suryo Prabowo melalui Instagram pribadinya @SuryoPrabowo.
Demikian profil Widjojo Soejono Danjen Kopassus ke-6 pada Era Orde.
(RIN)
(Rani Hardjanti)