Misteri Dusun Pandak Tempat Pelarian Raden Wijaya dan Pasukannya

Avirista Midaada, Jurnalis
Jum'at 25 Agustus 2023 05:32 WIB
Illustrasi (foto: dok Okezone)
Share :

RADEN WIJAYA dan pasukannya melarikan diri dari serangan Jayakatwang usai kegagalan merebut istana Tumapel atau yang dikenal dengan Singasari. Raden Wijaya mengarah ke utara dari ibu kota kerajaan atas saran Lembu Sores, salah satu pengikutnya.

Ketika pelarian itulah, Raden Wijaya singgah di sebuah dusun bernama Dusun Pandak. Konon Raden Wijaya singgah di Dusun Pandak. Di situ ia diterima dan dijamu oleh ketua desa yang bernama Macan Kuping dengan buah kelapa muda dan si patih.

Raden Wijaya terharu menerima sambutan ramah tamah itu. Kemudian ia bermaksud melanjutkan perjalanannya sebagaimana dikutip dari "Menuju Puncak Kemegahan : Sejarah Kerajaan Majapahit". Di situlah salah satu pasukan andalannya bernama Gadjah Pagon terlalu letih akibat lukanya pada paha, tidak dapat ikut serta.

Ia ditinggalkan di Dusun Pandak, disembunyikan di tengah ladang. Makan minumnya dijaga setiap hari oleh para penghuni desa. Raden Wijaya meninggalkan dusun Pandak menuju Dataran. Dari situ lalu naik perahu menuju Madura.

Pada Kakawin Pararaton, Dusun Pandak tidak disebut, yang disebut ialah Datar. Dalam hal ini boleh dikatakan ada persesuaian berita antara Pararaton dan Kidung Panji Wijayakrama. Lempengan tembaga yang terdapat di gunung Butak di daerah Majakerta yang dikeluarkan oleh raja Kertarajasa Jayawardhana, yakni nama abiseka Raden Wijaya, pada tahun Saka 1216 atau tahun Masehi 1294 sebagian telah diterjemahkan oleh ahli bahasa kuno Belanda Dr. Brandes. Sebagian lagi sudah diterbitkan dalam Oud Javaansche Oorkonden.

Baik dalam terjemahan Dr. Brandes maupun dalam piagam yang belum diterjemahkan itu tidak terdapat nama dusun Pandak. Piagam itu sekarang terkenal dengan namanya piagam Kudadu. Piagam itu menceriterakan, rasa terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua Dusun Kudadu yang pernah menerimanya dengan ramah tamah waktu ia singgah di dusun tersebut dalam perjalanannya ke Madura.

Ia serta pengikutnya sangat lapar, lelah, dan sedih ketika sampai di dusun Kudadu. la merasa tertimpa bahaya yang sangat besar. Ketua desa Kudadu menerimanya dengan ramah, memberinya minum dan makan. Tak hanya itu, pengikutnya juga disediakan tempat sembunyi agar tidak diketahui oleh musuh yang mencarinya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya