Pertemuan tersebut diawali dengan bertukar pikiran dan pemaparan pengetahuan serta pemahaman para tokoh terkait agama Islam. Namun, saat Syekh Siti Jenar mengungkapkan pendapatnya, ia justru mendapat tudingan sesat.
“Menyembah Allah dengan bersujud beserta ruku’-nya, pada dasarnya sama dengan Allah, baik yang menyembah maupun yang disembah. Dengan demikian, hambalah yang berkuasa, dan yang menghukum pun hamba juga.” demikian argumen Syekh Siti Jenar.
Argumen tersebut dianggap sangat menyimpang karena menganggap dirinya sendiri sebagai Tuhan. Meski demikian, Syekh Siti Jenar tetap teguh pada pendirian dan berkata, “Biar jauh tetap benar, sementara yang dekat belum tentu benar.”
Dalam argumennya, Syekh Ali Jenar menyampaikan jika syahadat dan tauhid adalah manunggal alias bersatu. Di mana artinya semua ciptaan Tuhan nantinya akan menyatu dengan yang menciptakan, karena itulah disebut Manunggaling Kawula Gusti.
Atas apa yang ia sampaikan tersebut, para wali memperingatkan bahwa konsep tersebut adalah sesat dan ia bisa dihukum mati.
Kendati dianggap sesat oleh Wali Songo, namun pengikut Syekh Ali Jenar justru memiliki pandangan lain. Mereka beranggapan jika dalam konsep tersebut bukan berarti Syekh Ali Jenar mengakui dirinya sebagai Tuhan, melainkan semua yang diciptakan oleh Tuhan maka akan kembali kepadaNya.
Demikian informasi mengenai ajaran Syekh Siti Jenar yang dianggap paling sesat oleh Wali Songo.
(Hafid Fuad)