Momen DN Aidit dan Pimpinan PKI Hadiri Rapat Akbar di Malang

Avirista Midaada, Jurnalis
Minggu 01 Oktober 2023 05:53 WIB
DN Aidit (foto: dok ist)
Share :

MALANG - Pegerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Malang dan Jawa Timur cukup masifdi era tahun 1955. PKI kala itu jadi magnet baru bagi masyarakat Malang dan sekitarnya di Jawa Timur ketika Pemilu 1955 berlangsung.

Mobilisasi massa besar-besaran konon pernah terjadi ketika pertemuan massal PKI di Malang. Bahkan catatan dokumen sejarawan Malang Faishal Hilmy Maulida, jumlahnya mencapai ratusan ribu simpatisan hadir di pertemuan rapat Akbar tersebut.

Menurut Faishal, Rapat-rapat akbar ini terjadi jauh sebelum peristiwa kekejaman PKI di malam 30 September 1965, atau yang dikenal dengan gerakan G30 S PKI. Kala itu memang pergerakan PKI di Malang tengah meningkat. Apalagi Pemilu juga digelar tak lama lagi.

Sejarah mencatat PKI pernah menggelar rapat Akbar di Alun-alun Malang yang dihadiri sekitar 200 ribu masyarakat. Di sini masyarakat disuguhkan oleh pertunjukan karnaval - karnaval yang ditampilkan.

"Pertemuan akbar di Malang itu klaimnya harian rakyat di alun - alun kurang lebih 200 ribu hadir, dihadiri oleh anggota PKI komunis Australia,"

Menariknya saat itu, sempat terjadi ketegangan antara pimpinan PKI DN Aidit dengan pimpinan Partai Masyumi Hasan Aidid di Malang. Saat itu entah bagaimana ceritanya Hasan tiba dari Surabaya ke Malang di saat PKI tengah melakukan rapat akbar di Alun - Alun Malang.

"Sempat terjadi kericuhan rombongan Hasan Aidid dari Masyumi Surabaya, bertemu rombongan DN Aidit karena mereka beradu makian, dan ini kejadian yang menarik dan kejadian besar saat itu, karena memang suasananya menjelang pungutan suara tahun 1955," tutur dosen Sejarah di Binus University Malang ini.

Tapi saat itu disebut Faishal, media memberitakan kronologi penyebab yang berbeda - beda. Bila media yang terafiliasi PKI menyebut Hasan Aidit-lah yang menjadi penyebabnya lantaran sengaja datang merusak rapat akbar PKI di Malang. Tetapi versi lain menyebutkan adanya provokasi yang dilakukan pimpinan PKI saat rapat akbar di Malang.

Menurut Faishal, pemimpin PKI memilih untuk menyiasati langsung turun ke masyarakat menjelang pemilihan umum. Hal ini membuat masyarakat merasa simpati dan mudah untuk direbut hatinya.

"Para pemimpin mereka mau turun langsung ke wilayah terutama menjelang pemilihan. Berikutnya tanggal 29 Oktober pemilihan DPRD di Jawa timur jadi Pimpinan partai turun langsung, Aidit ke Lumajang, Lukman ke Surabaya dan lain - lain. Aidit memberikan rapat akbar di Lumajang, Lukman ke Surabaya dan sebagainya," terangnya.

Selain itu suguhan karnaval dan pertunjukan seni membuat warga di Malang juga turut tertarik untuk mendukungnya. Selebaran - selebaran dengan logo PKI juga menjadi propaganda PKI di setiap daerah. Kelemahan masyarakat Indonesia akar rumput, yang belum bisa membaca huruf latin dipahami betul oleh PKI.

"Di setiap acara ada hiburan - hiburan, karnaval - karnaval agar menarik orang mencoblos partai ini. Kemudian mereka juga sangat aktif dalam menyebarkan selebaran - selebaran yang di setiap selebaran, selalu menonjolkan logo partai yang lebih besar daripada narasinya termasuk membuat karnaval-karnaval," paparnya.

"Setiap karnaval PKI yang ditonjolkan adalah simbol-simbol palu arit, karena masyarakat kita masih umumnya masih buta huruf latin, jadi orang yang tahu logonya ini familiar dilihat mata ya pasti akan dicoblos," tambahnya.

Sementara disebutnya, untuk kalangan menengah ke atas, PKI menawarkan riset terhadap kondisi sosial masyarakat kala itu. Persoalan mulai dari kesenjangan gaji buruh pria dan wanita, kesenjangan gaji guru dan buruh, dan persoalan sosial ekonomi menjadi tajuk PKI menggalang dukungan di Malang.

"Hasil riset tersebut kemudian nantinya dipublikasikan di media, nanti mereka akan memberikan solusi saat partai memimpin kendali pemerintahan atau melalui parlemen nanti," ucap Faishal kembali.

Hasilnya cukup besar, bahkan perolehan suara PKI disebutkan naik berkali-kali lipat di Pemilu DPRD pada tahun 1957. "Suara PKI di Malang dan di Jawa Timur itu progresnya naik dari Pemilu DPR bulan September kemudian naik di Pemilu konstituante naik berkali lipat juga di pemilihan DPRD tahun 1957," tandasnya.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya