Ade Irma Tewas Tertembak, Kepergiannya Diiringi Tangisan Ribuan Pelajar

Nanda Aria, Jurnalis
Sabtu 07 Oktober 2023 06:12 WIB
Ade Irma/Foto: Wikipedia
Share :

 

JENDERAL Abdul Haris (AH) Nasution harus merelakan anak kandungnya menjadi korban penembakan pada 30 September 1965. Pasukan Tjakrabirawa yang hendak menangkap AH Nasution, memberondong rumah dinasnya dengan peluru.

Namun nahas, bukannya mengenai AH Nasution, berondongan peluru itu malah mengenai Ade Irma. Gadis kecil itu pun tewas bersimbah darah. Peristiwa di malam berdarah itu juga menewaskan ajudannya, Lettu (CZI) Pierre Andreas Tendean. AH Nasution sendiri berhasil selamat usai melompat pagar.

 BACA JUGA:

Dikutip dari buku ‘Tujuh Prajurit TNI Gugur: 1 Oktober 1965’, pada 30 September 1965, saat kediaman Jenderal Nasution didatangi gerombolan Tjakrabirawa, Tendean orang pertama yang menghadapi dan mengaku sebagai Nasution. Tendean sempat lebih dulu diikat di pohon besar depan rumah oleh gerombolan pimpinan Lettu Doel Arief.

Tapi setelah mendapat sejumlah penganiyaan dan penyiksaan, barulah diketahui yang mereka tangkap itu bukan Nasution. Tendean dibiarkan sekarat dengan beberapa luka tembak sampai mengembuskan napas terakhirnya.

 BACA JUGA:

Nasution sendiri, berhasil meloloskan diri dengan melompat pagar dan sembunyi di rumah Duta Besar Irak di sebelah kediamannya. Sementara keluarga Tendean baru tahu bahwa perwira TNI belasteran Indonesia-Prancis itu turut jadi korban dari siaran radio pada 4 Oktober 1965.

Salah satu gerombolan melihat sosok Nasution di balik pintu. Mereka pun sontak melontarkan tembakan. Nasution berusaha menghindar dengan menjatuhkan diri ke lantai. Bak mukjizat, peluru-peluru itu pun luput dari tubuh istri Nasution.

Tapi berondongan tembakan di dalam rumah mengenai tubuh Ade Irma yang sudah terbangun dari tidurnya. Sementara Nasution sudah meloloskan diri, sang istri yang kemudian mendekati Ade Irma, mendapati putrinya bersimbah darah.

Sembari tercekat menahan ledakan air mata, Johanna berharap putrinya bisa bertahan. “Ade hidup terus, ya”, ucap Johanna. “Ya mama. Hidup terus. Mengapa Ayah ditembak, mama?” jawab Ade Irma lagi.

Segera Johanna membawa putrinya ke RSPAD bersama keponakan Nasution, Saidi. Dalam perjalanan, Johanna juga sempat melaporkan kejadian itu ke Markas KKO (kini Marinir TNI AL) dekat RSPAD.

Nasution sendiri baru keluar dari persembunyian sekira pukul 06.30 WIB. Ade Irma sendiri di RSPAD menjalani operasi, tapi nyawanya tetap tak bertahan lama. Lima hari pascakejadian, Ade Irma Suryani dipanggil Yang Maha Kuasa, pada 6 Oktober 1965.

Duka nan sangat mendalam buat keluarga Nasution yang kemudian, menghaturkan doa ketika Ade Irma dimakamkan di Blok P, Kemayoran dengan diiringi tangis ribuan pelajar yang kehilangan sosok gadis berusia 5,5 tahun tersebut.

 BACA JUGA:

“Anakku yang tercinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai untuk Ayahmu. Engkau mendahului kami semua menghadap kepada Allah Ta’ala dan semoga engkau mendapat tempat yang sebaik-baiknya di sisi Tuhan,” cetus doa Nasution.

“Ya Allah, terimalah putri kami ini dengan segala kebaikannya. Kami mengantarkannya dengan ikhlas, mengembalikannya pada-Mu, karena Engkaulah yang empunya. Kami sekeluarga memanjatkan doa syukur kepada-Mu atas segala kebahagiaan yang jadi nikmat bagi kami selama dia ada di sisi kami. Sekarang dia kembali kepada-Mu sebagaimana semuanya akan kembali kepada-Mu. Amien,” tandas Nasution.

(Nanda Aria)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya