Mahmud langsung menemui anggota ABRI menyampaikan bahwa apa yang dilihat kawannya betul mayat manusia. Pihak ABRI percaya dan meminta Mahmud beserta temannya untuk beranjak istirahat.
Keesokan harinya Mahmud dan temannya tak diminta ABRI untuk kembali menggali sumur. Namun, diwawancarai apakah mengetahui tindakan tersebut.
“Kami berhenti di dalam rumah, kami di screening dan ditanyakan mengapa saudara tidak melapor,” ujarnya.
Peristiwa jahanam Gerakan 30 September tahun 1965 atau G30S/PKI itu menelan nyawa Pahlawan Revolusi. Mereka ada Letnan Jenderal Anumerta Ahmad Yani; Mayor Jenderal Raden Soeprapto; Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono; Mayor Jenderal Siswondo Parman; Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan; Brigadir Jenderal Sutoyo Siswodiharjo; serta Lettu Pierre Andreas Tendean.
(Arief Setyadi )