Pasukan Lumajang menyiapkan pos pertahanan terluar di daerah Ganding dan pos pertahanan di daerah Pajarakan. Serangan pertama yang dilakukan di daerah Ganding, yang kini masuk Kabupaten Probolinggo, yang merupakan pos pertahanan terluar Kerajaan Lamajang Tigang Juru, pasukan Majapahit dapat dengan mudah menaklukkannya.
Persiapan yang kurang dan serangan mendadak telah menyebabkan laskar Lamajang tidak siap menghadapi serangan besar-besaran yang dilakukan oleh pihak Majapahit. Pasukan Lamajang pun melarikan diri ke pertahanan inti mereka di Pajarakan, yang merupakan pertahanan terakhir sebelum menuju keraton Lamajang Tigang Juru.
Mpu Nambi disertai beberapa temannya serta para petinggi Majapahit dan pendukung setia Wangsa Rajasa saat melayat ke Arya Wiraraja, berusaha mati - matian mempertahankan Pajarakan dan keraton Lamajang. Pasukan Lamajang mempersiapkan diri seadanya menunggu pasukan Majapahit di wilayah Pajarakan.
Saat peperangan inilah letak Pajarakan yang di atas lembah menyebabkan posisi pasukan Lamajang lebih diuntungkan, karena menguasai wilayah yang lebih tinggi. Pada pertempuran yang menentukan ini kedua kekuatan pasukan ini sama kuatnya, sehingga pertempuran berlangsung dengan sengit.
Pasukan Majapahit selalu kesulitan setiap kali hendak menerobos dan merebut keraton Lamajang Tigang Juru. Pasalnya yang dilindungi oleh sungai yang lebar dan benteng yang kokoh. Namun di tengah pertempuran ini Mahapati menggunakan siasat liciknya menyerang Mpu Nambi, dengan tiga lawan sekaligus.
Jabung Trewes, Lembu Peteng, dan Ikal - ikalan Bang menyerang bersama hingga Mahapatih Mpu Nambi gugur di Medan pertempuran. Melihat Mpu Nambi gugur, banyak pasukan Lamajang yang jatuh mentalnya dan berlari menyelamatkan diri dari kejaran pasukan Majapahit.
Usaha yang dilakukan para pembesar Majapahit di Lamajang dan membela Mahapatih Mpu Nambi menjadi sia-sia, karena sudah terlambat sehingga gugurlah pada teman seperjuangan Kertarajasa Jayawardhana maupun anak-anak Arya Wiraraja di Medan laga.
Mendengar gugurnya Mpu Nambi sang istri ikut bela pati atau bunuh diri dan gugur di Keraton Lumajang Tigang Juru sehingga payung kebesaran Lumajang Tigang Juru harus tercabut dan hilang sejarahnya.
(Awaludin)