Mereka pun meminta bantuan seorang penyihir yang menguasai ilmu hitam yang tinggal di sebuah desa terpencil untuk menyihir Putri Kandita bersama ibunya agar keduanya menderita penyakit kusta.
Tak lama kemudian, penyakit tersebut benar-benar datang sehingga kulit Putri Kandita dan ibunya dipenuhi borok yang mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwangi pun memanggil tabib istana untuk segera menyembuhkan mereka. Namun, berbagai ramuan pun tidak dapat menyembuhkan penyakit yang diderita keduanya.
Dengan penyakit yang tak kunjung sembuh, hal ini membuat sang permaisuri yang sudah tua meninggal karena tidak sanggup melawan kutukan sementara Putri Kandita masih tetap bertahan.
Rencana jahat para selir tidak berhenti sampai disitu saja. Mereka pun menghasut Prabu Siliwangi untuk mengusir Putri Kandita dari kerajaan dengan alasan takut tertular penyakit yang dideritanya yang ternyata usulan tersebut disetujui Prabu Siliwangi.
Mendengar hal tersebut, Putri Kandita teramat sakit hati sehingga ia melarikan diri dari kerajaan. Ia terus berlari tanpa tujuan selama berhari-hari hingga akhirnya sampai di pesisir pantai selatan Pulau Jawa.
Rasa lelah yang dirasakannya membuat Putri Kandita memilih beristirahat di salah satu batu karang sekitar pantai. Dalam tidurnya, ia bermimpi kalau ia dapat menyembuhkan penyakit kusta tersebut dengan menceburkan diri ke laut.