JAKARTA - Mungkin belum banyak yang mengenali sosok KH Muhammad Hisyam Abdul Karim atau Mbah Hisyam. Sosok ulama tersebut ternyata merupakan kakek mertua dari calon Presiden (capres) Ganjar Pranowo.
Mbah Hisyam merupakan kakek kandung dari Siti Atikoh Supriyanti, istri Ganjar Pranowo. Mbah Hisyam merupakan salah satu Nahdliyin atau tokoh keluarga Nahdlatul Ulama (NU) yang paling dihormati se-Jawa, terutama di Purbalingga.
Sang kiai juga merupakan pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Sukarawah Roudlotus Sholihin Sholihat. Untuk mengenal lebih dalam sosok kiai tersebut, simak profilnya:
Profil Mbah Hisyam
Tercatat, Mbah Hisyam lahir di Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 8 Agustus 1909, dengan nama lengkap Muhammad Hisyam Abdul Karim. Mbah Hisyam merupakan putra dari Abdul Karim, yang mana merupakan Kepala Dusun Sukawarah di Desa Kalijaran.
Mbah Hisyam menempuh pendidikannya hanya sampai tingkat Sekolah Dasar (SD). Meski begitu, Mbah Hisyam adalah sosok yang rajin belajar ilmu agama dan mengaji dengan ustadz di kampungnya.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Selain menempuh pendidikan SD, Mbah Hisyam menuntut ilmu agama dengan ayahnya sendiri, Kiai Abdul Karim yang juga merupakan guru kesenian Rodat. Kiai Abdul Karim mendidik Mbah Hisyam untuk menuntut ilmu dari satu pondok ke pondok lainnya.
Mbah Hisyam menuntut ilmu dari sekitar Banyumasan, hingga keliling pulau Jawa. Di Kediri, Jawa Timur, ia menuntut ilmu kepada Kiai Dahlan, seorang wali yang dikaruniai ilmu laduni, dan juga Kiai Ikhsan, sosok terpandang se Jawa Timur.
Mbah Hisyam dididik oleh kedua ulama tersebut selama delapan tahun, keilmuan Mbah Hisyam semakin mendalam di bidang ilmu falak, atau ilmu astronomi.
Namun, dengan kegigihannya menuntut ilmu, Mbah Hisyam nelum merasa puas dengan ilmu yang ia miliki. Ia menyadari, semakin banyak ilmu yang dipelajari, justru semakin banyak juga hal-hal yang ia tidak ketahui.
Dari Kediri, Mbah Hisyam melanjutkan perjalannya ke pondok lain. Ia menuju Cirebon untuk melajar di Ponpes Buntet. Di sana, ia mendalami ilmu Qoiratul Qur’an kepada kiai Yusuf. Kemudian ia berlanjut belajar Al Qur’an kepada kiai Nuh Pager Aji di Cilongkok dan ilmu Thoriqoh kepada kiai Rifa’I di Sokaraja.
Keluarga Mbah Hisyam
Pada tahun 1927, Mbah Hisyam menikah dengan Bu Rumiyah, seorang putri dari Desa Kalijaran. Salah satu anaknya, yaitu Akhmad Musodik Supriyadi merupakan ayah dari Siti Atikoh.
Riwayat keluarga ini yang membuat Ganjar Pranowo menjadi bagian dalam keluarga besar Mbah Hisyam, tepatnya cucu mantu dari Mbah Hisyam. Ini juga membuat anak Ganjar dan Atikoh, yaitu Alam Ganjar, menjadi cucu buyut dari sosok ulama ternama ini.
Mendirikan Pesantren
Setelah selesai mengembara menuntut ilmu, dengan restu para gurunya, Mbah Hisyam mendirikan Ponpes Sukawarah Roudlotus Solihin pada tanggal 2 Februari 1929. Di sini lah julukan Mbah Hisyam menjadi tenar.
Pada masa perjuangan, Ponpes Sukawarah menjadi tempat berkumpulnya para santri pejuang. Para santri di sana tidak hanya diajarkan mengaji, mereka juga dibekali ilmu-ilmu lain bak tentara, seperti baris berbaris, huruf morse hingga pertolongan pertama.
Hingga saat ini, Pesantren tersebut masih berdiri kokoh, dan murid-murid yang ada di sana masih menanamkan apa yang diajarkan oleh Mbah Hisyam sejak hampir 1 abad lalu.
Nahdlatul Ulama
Di kalangan Nahdliyin, Mbah Hisyam terkenal senagai ulama yang hebat, dalam keilmuan agamanya dan kanuragannya (ilmu spiritual). Para jamaah dan Nahdliyin yang mengenalnya, menilai Mbah Hisyam sebagai ulama yang lucu dan murah senyum.
Kedekatannya dengan kalangan Nahdliyin membuatnya terpilih sebagai Rais Syuriah PCNU Purbalingga selama tiga periode, terhitung pada tahun 1973-1975, lalu 1975-1978, dan lanjut dari 1978-1983.
Dengan catatan perjalanan karir dan keilmuannya, Ganjar Pranowo menilai Mbah Hisyam sebagai sosok yang layak dijadikan teladan. Hal itu ia ungkap saat menghadiri acara Haul ke35 sosok ulama tersebut, pada Senin (30/10/2023)
(Erha Aprili Ramadhoni)