JAKARTA - Plt. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menyebutkan ketersediaan vaksin cacar monyet mencukupi.
Hal tersebut ia sampaikan kepada awak media di Balaikota DKI Jakarta pada Jumat (3/11/2023) siang.
"Penambahan vaksin sangat bergantung kepada Kementerian Kesehatan. Jadi kami menerima saja," ujar Ani Ruspitawati.
Ia mengungkapkan kebutuhan vaksin cacar monyet hingga saat ini mencukupi. Pasalnya tidak seluruh masyarakat akan diberikan vaksinasi.
"Karena vaksinasi cacar monyet pada dasarnya tidak diberikan kepada semua orang, hanya diberikan kepada orang orang yang memiliki risiko tertinggi tertular," terangnya.
Karena cacar monyet merupakan penyakit menular, Dinkes DKI disebut Ani terus melakukan tracing secara aktif untuk menemukan kasus dan memutus rantai penularan.
"Jadi bukan target kira kira berapa orang yang terkena, yang dilakukan begitu ada kasus maka kita akan tracing supaya bisa memutus lantai penularan supaya bisa putus rantai penularan sehingga gak banyak orang yang kena," lanjut Ani Ruspitawati.
Ani juga menjelaskan pihaknya terus melakukan monitor, melakukan kewaspadaan terhadap kelompok yang kemungkinan memiliki risiko tertular, khususnya mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien yang sudah positif cacar monyet.
Perihal jatah vaksin cacar monyet dari Asean, Pemprov DKI Jakarta kata Ani menunggu alokasi dari Kementerian Kesehatan.
"Yang pasti seluruh faskes kami 31 RSUD mampu melaksanakan perawatan dan isolasi untuk penderita cacar monyet. Pemeriksaan hasil cacar monyet sepenuhnya dilakukan di Kementerian Kesehatan," pungkasnya.
Sebagaimana diketahui 24 pasien positif cacar monyet di DKI Jakarta merupakan laki-laki usia produktif antara 25-50 tahun.
Meskipun sumber penyakit awalnya berasal dari luar negeri, namun hasil penelusuran Kementerian Kesehatan RI diketahui 6 pasien Monkeypox juga merupakan Orang Dengan HIV (ODHIV) dan memiliki orientasi Biseksual.
Penderita cacar monyet diketahui pada umumnya memiliki faktor perilaku seks beresiko (homo seksual dan seks bebas) dengan ciri-ciri muncul lesi dan ruam kemerahan, dan diikuti dengan demam, pembesaran kelenjar getah bening, nyeri tenggorokan, myalgia, ruam, dan sulit menelan.
Penularan terjadi dari manusia ke manusia karena kontak langsung dengan cairan tubuh atau lesi kulit orang yang terinfeksi.
(Khafid Mardiyansyah)