Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Biosolar di Laut Jawa

Taufik Budi, Jurnalis
Minggu 05 November 2023 21:51 WIB
Menjaga warisan nenek moyang dengan biosolar di Laut Jawa. (Taufik Budi
Share :

PEMALANG – Cadiro (40) dan rekannya, Ahmadi, berjalan cepat memikul dua jeriken biosolar menuju kapal yang bersandar di Dermaga Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. 50 liter biosolar ini akan menggerakkan mesin-mesin kapal demi menjaga warisan nenek moyang di Laut Jawa.

Kapal nelayan Pantura dilengkapi dengan empat mesin yang memiliki fungsi berbeda. Dua mesin digunakan untuk menggerakkan baling-baling agar kapal dapat melaju ke laut, sementara dua mesin lainnya berfungsi untuk menggulung tali jaring setelah menangkap ikan. Setiap mesin memiliki tangki berisi 10-15 liter biosolar.

Nelayan Pantura Pemalang telah lama menjalani profesi sebagai pelaut, mewarisi tradisi nenek moyang. Mereka berlayar ke tengah laut dengan langkah hijau menggunakan biosolar sebagai bahan bakar, untuk menjaga alam sekaligus keberlanjutan sumber daya laut.

Sebagai pewaris nenek moyang pelaut, Cadiro dan ratusan nelayan sangat bergantung pada Laut Jawa untuk mencari nafkah bagi keluarga. Setiap hari, mereka mengarungi lautan menghadapi derasnya gelombang.

“Biasanya kita berangkat Subuh, lalu pulang sekira jam 2 siang. Kita melautnya ya sekitar sini saja, kalau musimnya lagi enggak bagus. Kadang (melaut) sampai ke Batang juga,” kata Cadiro kala bertutur kesehariannya, Jumat (20/10/2023).

Dia bersyukur karena sejak 2018 lebih mudah mendapatkan bahan bakar biosolar setelah adanya SPBUN (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum Nelayan) di Dermaga Desa Mojo. Selain itu, harganya cukup terjangkau, sekitar 6.800 rupiah per liter.

Sebelumnya, para nelayan harus pergi ke kota berjarak sekira 15 kilometer untuk mendapatkan solar. Pilihan lain adalah membeli dari pedagang dengan harga yang relatif mahal. Untuk itu, mereka setiap hari mengantrekan jeriken ke SPBUN Mojo untuk diisi biosolar.

“Kalau tidak mau repot ya beli ke bakul-bakul (pedagang). Harganya pasti lebih mahal, sampai Rp8.000 per liter. Kalau dikalikan 50 liter kan selisihnya bisa sampai Rp60.000. Itu besar sekali bagi nelayan,” lugasnya.

Dengan mengadopsi biosolar, para nelayan tidak hanya menjaga lingkungan laut tetap bersih, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya alam untuk generasi mendatang. Mereka semakin memahami bahwa biosolar lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

“Ya kan kita juga dikasih tahu jika biosolar itu katanya lebih aman ketimbang solar biasanya. Jadi biar sekaligus menjaga alam, karena menjadi pelaut kan tidak hanya kami saat ini, tetapi juga anak-anak kami nanti,” terangnya.

Penuturan serupa disampaikan Eko Woto. Pria berusia 48 tahun itu mengaku sejak remaja menjadi nelayan mengikuti jejak orang tuanya. Dia mengaku sudah mafhum karakter Laut Jawa yang tiap hari diarungi dengan kapal sopek buatan warga Demak.

Meski dengan penghasilan tak pasti, namun menjadi nelayan seolah tak bisa dihindari warga bagi pesisir seperti dirinya. Apalagi, jika cuaca buruk mereka tetap harus menerjang lautan agar asap dapur bisa mengepul.

“Memang kalau bicara masalah penghasilan ya enggak tentu. Tapi kalau pas banyak itu ya sangat menggembirakan. Ya campur-campur dapatnya, ada cumi, ikan, serimping,” ungkapnya.

Lautan dan menangkap ikan sangat akrab dengan kesehariannya. Termasuk lokasi-lokasi yang biasanya terdapat banyak ikan. Untuk pembagian hasil, mereka mengikuti tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun.

“Kalau tradisi di sini, setelah ikan tangkapan di laut dijual hasilnya kita bagi. Pembagiannya begini, pertama dikurangi dulu untuk biaya bahan bakar biosolar, lalu operasional makan dan lain-lain. Setelah itu dibagi dua, satu untuk pemilik kapal, dan sisanya kita bagi untuk nelayan yang ikut di kapal itu. Misalnya ada 2 nelayan ya dibagi 2, kalau tiga ya dibagi 3,” beber dia.

760 Kapal Nelayan

SPBUN Mojo menyuplai sekitar 300 kiloliter biosolar per bulan untuk 760 kapal nelayan di Mojo dan Ketapang. Biosolar tersebut dipasok dari PT Pertamina Fuel Terminal Tegal sekira 13 kiloliter per hari. Fuel Terminal Tegal menyediakan biosolar kepada 8 SPBUN di Kabupaten Pemalang hingga Brebes dengan kebutuhan sekitar 100 kiloliter per hari.

“Sejak awal penyaluran pada 2018 di SPBUN Mojo itu kita sudah biosolar, jadi lebih ramah lingkungan untuk menjaga kelestarian alam di wilayah laut,” kata Sales Branch Manager Rayon II Tegal PT Pertamina Patra Niaga, Ahmad Fernando.

“Di Mojo rata-rata penjualan BBM (bahan bakar minyak) di sini itu sekitar 11-13 kiloliter per harinya, itu untuk melayani sekitar 760-an kapal,” imbuhnya.

Dia memastikan distribusi BBM subsidi berupa biosolar bagi nelayan di Kabupaten Pemalang terlaksana sesuai dengan kuota yang ditetapkan. Sistem monitoring pencatatan ditingkatkan secara digital dengan penggunaan barcode dari surat rekomendasi yang dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

Transaksi di SPBUN menggunakan barcode yang mencantumkan kuota sesuai surat rekomendasi. Jika kuota habis, nelayan dipersilakan untuk mengurus surat rekomendasi lagi agar bisa mendapatkan BBM. Di luar transaksi menggunakan barcode, SPBUN dilarang menyalurkan BBM kepada orang yang tidak memiliki surat rekomendasi.

Kuota penyaluran BBM subsidi oleh Pertamina dan SPBUN telah ditentukan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas). Kabupaten Pemalang memiliki tiga SPBUN yang tersebar di sepanjang pesisir pantai, yaitu di Tanjungsari, Mojo, dan Asemdoyong. Dari ketiga SPBUN ini, tercatat bahwa mereka melayani sekitar 13.000 kapal yang tersebar di Kabupaten Pemalang.

“Saat ini kebutuhan biosolar nelayan di Kabupaten Pemalang sudah terlayani dengan baik. Realisasi dibanding dengan kuota sejak Januari hingga September 2023 itu hanya tercatat 90 persen. Artinya kuota (BBM) yang sudah disampaikan ke SPBUN sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nelayan di Kabupaten Pemalang,” jelasnya.

Dia menyampaikan, antrean jeriken di SPBUN Mojo dikarenakan hari-hari atau bulan-bulan banyak nelayan melaut, yang meningkatkan permintaan BBM secara signifikan. Meskipun antrean panjang terjadi, pelayanan tetap berjalan dengan baik.

“Pada saat peningkatan permintaan BBM, maka nelayan pasti berbondong-bondong membawa jeriken ke SPBUN. Walaupun antrean panjang, kita tetap melayani dengan baik. Meski nanti pelayanannya bisa 24 jam,” terang pria yang akrab disapa Nando itu.

Pakar mesin kapal dari Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang, Juwarlan, M.Mar.E, mengatakan, hampir semua kapal nelayan mengandalkan BBM jenis solar. Kapal nelayan umumnya memiliki lebih dari satu mesin dengan fungsi yang berbeda.

“Penggunaan beberapa mesin yang berbeda pada kapal nelayan ternyata lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan mengandalkan satu mesin besar yang memerlukan lebih banyak BBM,” ujar Juwarlan.

“Penggunaan mesin yang terpisah ini adalah lebih efisien karena memungkinkan penggunaan daya yang lebih tepat sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, mesin yang digunakan untuk penerangan hanya dinyalakan saat malam hari, sementara mesin untuk menggulung jaring hanya dinyalakan saat diperlukan. Ini menghasilkan penggunaan bahan bakar yang lebih hemat dan lebih efisien,” beber dia.

Penggunaan biosolar pada kapal nelayan memiliki dampak positif, bukan hanya dalam mengurangi kerusakan lingkungan, tetapi juga penghematan biaya selama perjalanan mencari ikan. Langkah ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara menjaga tradisi nenek moyang dalam melaut dan menjalankan prinsip keberlanjutan lingkungan.

“Kapal nelayan menggunakan jenis mesin diesel yang memiliki daya lebih rendah, khususnya di bawah 1.000 KW (kilowatt). Oleh karena itu, kapal-kapal ini umumnya menggunakan solar sebagai sumber bahan bakar tunggal,” ujar Ketua Jurusan Teknika di Polimarin itu.

Pakar Energi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr. Ir. Jaka Windarta, M.T, di tempat terpisah menambahkan, biosolar merupakan salah satu jenis bahan bakar yang ramah lingkungan. Bahan bakar itu diperoleh melalui pencampuran biodiesel (minyak nabati) dan bahan bakar solar.

“Jadi biosolar itu minyak kelapa sawit, minyak jarak pagar, minyak kemiri, atau minyak biji kapuk randu lalu dicampur dengan bahan bakar solar. Dengan komposisi itu maka biosolar lebih ramah lingkungan,” kata Dr. Jaka.

Sejarah penggunaan biosolar di Indonesia dimulai pada 2008 ketika pemerintah mengenalkan program pengembangan biodiesel sebagai alternatif energi yang ramah lingkungan. Biosolar menggunakan bahan baku dari tanaman seperti kelapa sawit yang tumbuh subur di Indonesia. Ini menjadikan biosolar sebagai solusi potensial untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Pada awalnya, biosolar hanya digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan di sektor angkutan darat seperti truk dan bus. seiring berjalannya waktu, penggunaan biosolar mulai merambah ke sektor perikanan dan pertanian sebagai penggerak mesin-mesin pertanian dan kapal-kapal nelayan.

Pemerintah memperkenalkan program B30, yang mengandung 30 persen biosolar dan 70 persen solar. Regulasi untuk Biosolar B30 mulai berlaku di Indonesia sejak Januari 2020, mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) No. 12 Tahun 2015.

Muncul lagi Biosolar B40 yang merupakan peningkatan dari program B30, dengan komposisi mencapai 40 persen bahan nabati. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Indonesia Joko Widodo untuk meningkatkan penggunaan biosolar hingga mencapai B100. Diharapkan B40 akan tersedia pada akhir 2022.

Selanjutnya, Biosolar B50 yang mengandung 50 persen bahan nabati dan 50 persen bahan bakar solar. Program ini dimulai pada tahun 2021 dan terbuka untuk Energi Terbarukan Berkelanjutan (EBT).

Kemudian, Biosolar B100 mengacu pada biosolar murni yang dapat digunakan dalam mesin diesel. Produk ini dihasilkan melalui esterifikasi minyak nabati atau lemak hewani menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya