Menjaga Warisan Nenek Moyang dengan Biosolar di Laut Jawa

Taufik Budi, Jurnalis
Minggu 05 November 2023 21:51 WIB
Menjaga warisan nenek moyang dengan biosolar di Laut Jawa. (Taufik Budi
Share :

Dia menyampaikan, antrean jeriken di SPBUN Mojo dikarenakan hari-hari atau bulan-bulan banyak nelayan melaut, yang meningkatkan permintaan BBM secara signifikan. Meskipun antrean panjang terjadi, pelayanan tetap berjalan dengan baik.

“Pada saat peningkatan permintaan BBM, maka nelayan pasti berbondong-bondong membawa jeriken ke SPBUN. Walaupun antrean panjang, kita tetap melayani dengan baik. Meski nanti pelayanannya bisa 24 jam,” terang pria yang akrab disapa Nando itu.

Pakar mesin kapal dari Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin) Semarang, Juwarlan, M.Mar.E, mengatakan, hampir semua kapal nelayan mengandalkan BBM jenis solar. Kapal nelayan umumnya memiliki lebih dari satu mesin dengan fungsi yang berbeda.

“Penggunaan beberapa mesin yang berbeda pada kapal nelayan ternyata lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan mengandalkan satu mesin besar yang memerlukan lebih banyak BBM,” ujar Juwarlan.

“Penggunaan mesin yang terpisah ini adalah lebih efisien karena memungkinkan penggunaan daya yang lebih tepat sesuai kebutuhan. Sebagai contoh, mesin yang digunakan untuk penerangan hanya dinyalakan saat malam hari, sementara mesin untuk menggulung jaring hanya dinyalakan saat diperlukan. Ini menghasilkan penggunaan bahan bakar yang lebih hemat dan lebih efisien,” beber dia.

Penggunaan biosolar pada kapal nelayan memiliki dampak positif, bukan hanya dalam mengurangi kerusakan lingkungan, tetapi juga penghematan biaya selama perjalanan mencari ikan. Langkah ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara menjaga tradisi nenek moyang dalam melaut dan menjalankan prinsip keberlanjutan lingkungan.

“Kapal nelayan menggunakan jenis mesin diesel yang memiliki daya lebih rendah, khususnya di bawah 1.000 KW (kilowatt). Oleh karena itu, kapal-kapal ini umumnya menggunakan solar sebagai sumber bahan bakar tunggal,” ujar Ketua Jurusan Teknika di Polimarin itu.

Pakar Energi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Dr. Ir. Jaka Windarta, M.T, di tempat terpisah menambahkan, biosolar merupakan salah satu jenis bahan bakar yang ramah lingkungan. Bahan bakar itu diperoleh melalui pencampuran biodiesel (minyak nabati) dan bahan bakar solar.

“Jadi biosolar itu minyak kelapa sawit, minyak jarak pagar, minyak kemiri, atau minyak biji kapuk randu lalu dicampur dengan bahan bakar solar. Dengan komposisi itu maka biosolar lebih ramah lingkungan,” kata Dr. Jaka.

Sejarah penggunaan biosolar di Indonesia dimulai pada 2008 ketika pemerintah mengenalkan program pengembangan biodiesel sebagai alternatif energi yang ramah lingkungan. Biosolar menggunakan bahan baku dari tanaman seperti kelapa sawit yang tumbuh subur di Indonesia. Ini menjadikan biosolar sebagai solusi potensial untuk memenuhi kebutuhan energi di masa depan.

Pada awalnya, biosolar hanya digunakan sebagai bahan bakar untuk kendaraan di sektor angkutan darat seperti truk dan bus. seiring berjalannya waktu, penggunaan biosolar mulai merambah ke sektor perikanan dan pertanian sebagai penggerak mesin-mesin pertanian dan kapal-kapal nelayan.

Pemerintah memperkenalkan program B30, yang mengandung 30 persen biosolar dan 70 persen solar. Regulasi untuk Biosolar B30 mulai berlaku di Indonesia sejak Januari 2020, mengacu pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Alam (ESDM) No. 12 Tahun 2015.

Muncul lagi Biosolar B40 yang merupakan peningkatan dari program B30, dengan komposisi mencapai 40 persen bahan nabati. Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Indonesia Joko Widodo untuk meningkatkan penggunaan biosolar hingga mencapai B100. Diharapkan B40 akan tersedia pada akhir 2022.

Selanjutnya, Biosolar B50 yang mengandung 50 persen bahan nabati dan 50 persen bahan bakar solar. Program ini dimulai pada tahun 2021 dan terbuka untuk Energi Terbarukan Berkelanjutan (EBT).

Kemudian, Biosolar B100 mengacu pada biosolar murni yang dapat digunakan dalam mesin diesel. Produk ini dihasilkan melalui esterifikasi minyak nabati atau lemak hewani menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

(Erha Aprili Ramadhoni)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya