JAKARTA- Inilah kisah tragisnya Perang Batak hingga meninggalnya Raja Sisingamangaraja XII bersama dengan kedua putranya dan kini menjadi kisah sejarah yang tidak boleh dilupakan generasi muda.
BACA JUGA:
Perang Batak merupakan bentuk perlawanan masyarakat Batak terhadap bangsa Belanda yang terjadi pada 1878 hingga 1907 atau sekitar 29 tahun. Latar belakang meletusnya perang ini bukan hanya karena Belanda dianggap mengeksploitasi sumber daya alam di Tanah Batak saja, namun karena adanya penindasan politik dan sosial.
Dilansir dari berbagai sumber, Jumat (24/11/2023), selain itu Raja Sisingamangaraja XII selaku pemimpin tertinggi Suku Batak diketahui menolak keras misionaris Belanda yang menyebarkan agama Kristen. Sehingga Raja Sisingamangaraja XII memutuskan untuk mengusir mereka.
Aksi tersebut rupanya membuat misionaris Belanda mencari perlindungan ke pemerintah kolonial. Alhasil, pada 6 Februari 1878 pasukan Belanda datang ke Pearaja untuk membantu para misionaris.
Patuan Bosar Ompu Pulo Batu atau Sisingamangaraja XII pun bereaksi atas kedatangan Belanda. Ia pun menghimpun orang-orang dari Suku Batak untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Perang pun diumumkan pada 16 Februari 1878. Pasukan dari suku Batak dengan segera melakukan serangan di pos-pos Belanda di Bahal Batu. Sayangnya, mereka mengalami kekalahan.
Tidak menyerah sampai di situ saja, Sisingamangaraja XII memerintahkan pasukannya untuk kembali berkumpul dan melancarkan serangan baru pada 1883-1884 dengan bantuan dari Aceh.
Beberapa taktik peperangan pun diberlakukan, mulai dari strategi gerilya, serangan mendadak, hingga mengandalkan senjata-senjata tradisional seperti tombak, parang, dan sumpit beracun.
Pada 1904, pasukan Belanda di bawah pimpinan Kolonel Gotfried Coenraad Ernst van Daalen melakukan serangan di Tanah Gayo dan sebagian daerah Danau Toba. Pertempuran lain juga terjadi di Pak-pak dimana pasukan Belanda dipimpin oleh Kapten Hans Christoffel.
Meski strategi perang sudah disusun dengan baik dan mendapatkan bantuan dari suku lain, nahas pasukan Batak di bawah pimpinan Sisingamangaraja XII lagi-lagi mengalami kekalahan karena Belanda mengadopsi taktik yang lebih efektif.
Akhirnya pada 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII yang terus menolak untuk menyerah akhirnya tewas setelah ditembak kepalanya oleh salah satu anggota Korps Marsose Belanda. Lebih tragis lagi, putri dan kedua putranya juga ditemukan tewas.
Sisingamangaraja XII akhirnya dikebumikan pada 22 Juni 1907 di Silindung. Namun, pada 14 Juni 1953 makamnya dipindahkan ke Makam Pahlawan Nasional, Soposurung, Balige.
Ia pun dikukuhkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Surat Keppres No. 590 pada 19 November 1961.
Demikian kisah tragisnya Perang Batak hingga meninggalnya Raja Sisingamangaraja XII bersama dengan kedua putranya.
(Hafid Fuad)