Selamat dari musibah, Irwandi yang masih berstatus tahanan melarikan diri hingga ke luar Aceh. Hingga akhirnya GAM sepakat berdamai pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia, dan Presiden memberi amnesti kepada para tahanan politik Aceh termasuk Irwandi.
Mendapatkan hak politiknya kembali sebagai warga negara, Irwandi mencalonkan diri dalam pemilihan gubernur 2006 dan terpilih sebagai Gubernur Aceh.
Baginya tsunami bukan hanya menyatukan pihak bertikai di Aceh, tapi juga mampu menyatukan bangsa-bangsa di dunia. Tanpa membedakan ras dan agama, bangsa-bangsa dunia berkumpul di Aceh setelah tsunami kemudian bersama membantu Provinsi itu bangkit.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada bangsa-bangsa di dunia yang telah membantu Aceh,” kata Irwandi.
Bangsa Indonesia juga harus bangkit secara ekonomi agar mampu menyelesaikan secara mandiri tanpa berharap bantuan negara lain jika terjadi bencaba. Selain itu, Indonesia juga harus mampu membantu bangsa lain yang didera musibah.
Jepang, lanjut dia, sudah membuktikan diri sebagai bangsa yang mandiri dengan tidak menerima belas kasihan negara lain saat tsunami. Jepang juga salah satu negara yang banyak membantu Aceh saat tsunami 26 Desember 2004.
Irwandi mengatakan gempa dan tsunami yang melanda Aceh bukanlah kutukan melainkan ujian dan pelajaran. Ujian agar umat mendekatkan diri kepada Nya dan pelajaran agar bangsa ini tau bagaimana menjaga lingkungan dan bangkit kembali menata ekonomi.
Masyarakat diharapkan jangan terus larut dalam musibah, namun harus bangkit menata perekonomian lebih baik dan mempelajari mitigasi bencana dan mengajarkannya kepada anak dan cucu.
Irwandi mengatakan, salah satu hikmah dari tsunami adalah adalah berakhirnya konflik bersenjata yang mendera Aceh selama puluhan tahun. Kala itu banyak orang yang pesimis perang di Aceh tidak akan berakhir kecuali semua rakyat Aceh mati, namun tsunami bisa menghentikan perang. Dia berharap damai ini terus terjaga agar Aceh dapat terus dibangun.
(Fakhrizal Fakhri )