Seruan Alumni dan Civitas Academica UIN Jakarta, Mendesak Pemilu Jurdil hingga Netralitas Aparat

Arief Setyadi , Jurnalis
Senin 05 Februari 2024 11:15 WIB
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Foto: UIN)
Share :

Situasi ini bukan saja dapat berdampak pada pelayanan pemerintah secara nasional, tapi juga menimbulkan ketidaksolidan dan ketidaknyamanan anggota kabinet. Jika situasinya terus seperti ini dikhawatirkan bisa menimbulkan instabilitas nasional. Padahal, berulangkali Presiden mengingatkan agar kita semua bergembira dalam menghadapi penyelenggaraan Pemilu/Pilpres 2024 ini.

Namun hari demi hari, yang diperlihatkan adalah tindakan yang cenderung sebaliknya, menambah kepiluan dalam pelaksanaan pemilu/pilpres dan pengelolaan keadaban demokrasi kita.

Pengelolaan keadaban/akhlak demokrasi ini sudah semestinya tidak dipandang sekadar seperangkat aturan tertulis. Aturan tentang boleh tidak boleh. Lebih dari itu, keadaban/akhlak demokrasi juga berhubungan erat dengan manfaat atau mudharat bagi kepentingan masyarakat. Sejak putusan MK atas uji materi No 90/2023 ditetapkan, keadaban/akhlak demokrasi kita terus menerus merosot. Presiden sebagai kepala negara berkewajiban untuk menjaga dan menjadi contoh bagaimana keadaban/akhlak berdemokrasi itu menjadi laku kehidupan bernegara.

Terakhir, mendesak Kepolisian RI untuk bersikap independen dan profesional. Tidak menjadi alat negara yang dapat menimbulkan rasa takut dalam mengekspresikan sikap politik warga negara. Tidak juga dengan mudah melakukan pemidanaan atas sikap kritis masyarakat.

Polri adalah alat negara untuk menegakkan hukum dan ketertiban. Bukan alat Presiden. Maka dan oleh karena itu, Polri sudah seharusnya bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara. Bukan untuk kepentingan pemerintah atau pihak-pihak tertentu.

Komunitas Alumni dan Civitas Academica UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat:

1. Dede Rosyada (IAIN/1985, Ketua Senat UIN, Guru Besar

2. Saiful Mujani (UIN/1984, Guru Besar)

3. M. Din Syamsuddin (FU IAIN 1982, Guru Besar

4. Dzuriyatun Toyibah (FISIP, IAIN 1995, Guru Besar)

5. Burhanuddin Muhtadi (TH FU lulus 2002, Guru Besar)

6. Oman Fathurahman (IAIN 1995/FAH, Guru Besar, Pengampu Ngariksa)

7. Jajang Jahroni (IAIN 1991/FAH, Guru Besar)

8. Jajat Burhanudin (IAIN 1992/FAH, Guru Besar)

9. Yayan Sopyan (PMB/1990, Guru Besar)

10. Sudarnoto Abdul Hakim (Guru Besar fak Adab/1984, Guru Besar)

11. Andi Faisal Bakti (meluluskan mahasiswa Fidkom sejak 2004, Guru Besar)

12. Sukron Kamil (BSA/1995, Guru Besar)

13. Masri Mansoer (FU/1982, Guru Besar)

14. Muhamad Ali (IAIN/TH FU/1992-1997/Guru Besar Univ of California Riverside)

15. Andi Salman Manggalatung (Guru Besar FSH)

16. Fachry Ali / IAIN 1982

17. Neng Dara Affiah, (FU/Perbandingan Agama/1987)

18. Sukidi, Ph.D (UIN/1998)

19. Makyun Subuki (UIN/Tarjamah/1997)

20. Zezen Zaenal Mutaqin (PMH/UIN/1999)

21. Ray Rangkuti (UIN/1992, alumni).

22. Nadirsyah Hosen (IAIN, Perbandingan Mazhab & Hukum, angkatan 1991)

23. Nong Darol Mahmada (UIN/1992, alumni)

24. Yuniyanti Chuzaifah (Filsafat/1988)

25. Muhamad Isnur (Fak Syariah & Hukum/ 2002)

26. Khalisah Khalid (UIN/Dakwah/1996)

27. Rakhmad Zailani Kiki (IAIN/1994, alumni)

28. Sunandar (UIN/1997, alumni)

29. Riza Bahtiar (UIN 1996, alumni)

30. Ramadhan Isa (UIN/1997)

31. Ikhwan Nasution (UIN/AS 1996)

32. Sapriudin (UIN/AS 1996)

33. Ahmad Dzikron (UIN/AS 1996

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya