BAGHDAD - Serangan Amerika Serikat (AS) yang berulang-ulang terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak mendorong pemerintah Baghdad untuk mengakhiri misi koalisi pimpinan AS di negara itu.
Juru bicara militer Perdana Menteri (PM) Irak Yahya Rasool pada Kamis (8/2/2024) mengatakan serangan pada Rabu (7/2/2024) menewaskan seorang komandan Kataib Hezbollah, kelompok bersenjata yang didukung Iran di Irak yang dituduh Pentagon menyerang pasukannya.
Rasool mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa koalisi pimpinan AS telah menjadi faktor ketidakstabilan dan mengancam untuk melibatkan Irak dalam siklus konflik.
Juru bicara militer Irak dalam sebuah pernyataan mengatakan Irak dan AS akan melanjutkan perundingan mengenai masa depan koalisi militer internasional pimpinan Amerika di negara tersebut pada 11 Februari mendatang.
Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein menyerukan dimulainya kembali pembicaraan melalui panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken pada Selasa (6/2/2024).
Setiap diskusi mengenai masa depan koalisi diperkirakan akan memakan waktu berbulan-bulan, bahkan mungkin lebih lama, dan hasilnya tidak jelas.
Di Washington, Pentagon mengatakan pihaknya telah memberi tahu pemerintah Irak mengenai serangan tersebut tidak lama setelah serangan tersebut terjadi.
Pembicaraan antara kedua negara dimulai pada Januari lalu mengenai masa depan koalisi. Namun kurang dari 24 jam kemudian tiga tentara AS tewas dalam serangan di Yordania yang menurut AS dilakukan oleh kelompok militan yang didukung Iran di Suriah dan Irak dan perundingan tersebut terhenti.
Seperti diketahui, koalisi militer internasional pimpinan AS di Irak dibentuk untuk melawan ISIS. AS memiliki 2.500 tentara di Irak, memberikan nasihat dan membantu pasukan lokal untuk mencegah kebangkitan kelompok tersebut.
Sejak perang Israel-Hamas di Gaza dimulai pada Oktober lalu, Irak dan Suriah hampir setiap hari menjadi saksi serangan balasan antara kelompok bersenjata garis keras yang didukung Iran dan pasukan AS yang ditempatkan di wilayah tersebut.
Pentagon mengatakan serangkaian serangan AS di Irak dan Suriah pekan lalu menewaskan lebih dari 40 militan.
Pada saat itu, Pasukan Mobilisasi Populer Irak, sebuah pasukan keamanan negara termasuk kelompok yang didukung Iran, mengatakan 16 anggotanya tewas termasuk para pejuang dan petugas medis. Pemerintah mengatakan warga sipil termasuk di antara 16 orang yang tewas.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, yang melaporkan perang di Suriah mengatakan di Suriah, serangan tersebut menewaskan 23 orang yang menjaga lokasi yang menjadi sasaran.
(Susi Susanti)