SUMEDANG - Aktor film Dirty Vote sekaligus dosen Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) Jentera, Bivitri Susanti mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh hasil perhitungan suara Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 lewat quick count ataupun real count.
Peringatan tersebut disampaikan Bivitri saat menjadi panelis dalam acara Nonton Bersama (Nobar) dan Diskusi bertajuk 'Setelah Dirty Vote' yang digelar oleh BEM KEMA Unpad berkolaborasi dengan BEM FH Unpad di Bale Pabukon, Unpad Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Sabtu (24/2/2024).
Bivitri menegaskan, demokrasi sejatinya tidak berakhir di angka-angka hasil quick count maupun real count.
"Sampai 20 Maret nanti, temen-temen jangan terkecoh dalam angka-angka persen di quick count, real count, dan lain-lain," ucapnya.
Menurutnya, tolak ukur keberhasilan berpartisipasi dalam politik saat hadirnya oposisi di luar pemerintahan.
"Karena Demokrasi perlu adanya oposisi, kalau tidak ada oposisi ya artinya otokrasi. Mari kita bangun oposisi dan dorong DPR untuk melakukan fungsinya sebagai oposisi," katanya.
Lebih lanjut Bivitri mengatakan, kehadiran film Dirty Vote ini untuk menjawab kegelisahan publik, termasuk para mahasiswa terkait sistem demokrasi di Indonesia saat ini.
"Saya yakin sebelum adanya film ini pasti temen-temen menyadari adanya kesalahan, adanya film ini adalah untuk menjabarkan kegelisahan temen-temen," tandasnya.
Sementara itu, sutradara film Dirty Vote, Dandhy Dwi Laksono yang hadir dalam acara tersebut bercerita bahwa proses pembuatan film dokumenter Dirty Vote dilakukan saat dirinya berstatus sebagai tersangka.
"Saya sebenarnya membuat film ini dalam keadaan tersangka, pasca saya membikin film Sexy Killer 5 tahun lalu," ungkap Dandhy.