Dandhy mengungkapkan, ada alasan tersendiri mengapa memilih Bivitri Susanti, Feri Amsari dan Zainal Arifin Mochtar sebagai aktor dalam film dokumenternya tersebut.
Sebab menurutnya, ketiga orang ini merupakan sosok yang berintegritas, independen serta bisa bertanggung jawab terhadap apa yang mereka sampaikan.
"Saya memilih aktor-aktor yang bisa bertanggung jawab dengan argumennya, berintegritas dan independen," imbuhnya.
Dandhy mengatakan, dirinya membuat film ini menjadi konten yang bisa bertahan dengan sendirinya karena kekuatan substansi yang dihadirkan.
"Film ini jadi menarik perhatian karena substansinya yang penuh, terus menerus ditonton sampai puluhan juta penonton. Idenya adalah tadi, saya bikin konten yang tidak ada pesaingnya, karena saya ingin berbeda dengan para buzzer, para konsultan politik, kalau saya bikin video 7-10 menit, itu mudah untuk dilibas oleh para buzzer dan para konsultan politik," tuturnya.
Oleh karena itu, kata Dandhy, dirinya tidak butuh media apapun untuk mempromosikan film tersebut.
"Karya yang baik adalah karya yang didukung oleh penikmatnya, bahwa ini karya yang rasional bagi penontonnya. Jadi film ini tidak perlu media consultan, buzzer, atau Deddy Corbuzier," katanya.
Dandy menyebut, dirinya pun sangat terbuka bagi pihak-pihak yang ingin beradu argumen tentang filmnya tersebut.
"Kita terbuka untuk menchallange film ini, tapi bukan di pengadilan tempatnya, tapi di ruang-ruang diskusi seperti ini," tandas Dandhy.
(Khafid Mardiyansyah)