Soeharto juga menjadikan Pancasila sebagai alat untuk mengancam musuh-musuhnya politiknya.
Para jenderal pembangkan ini mengawali oposisi melalui kelompok Brasildi. Kelompok ini terdiri dari pensiunan elite militer dari tiga divisi di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah, yaitu Brawijaya, Siliwangi, dan Diponegoro. Mereka melakukan diskusi dan kritik terhadap situasi politik pada saat itu.
Reaksi Soeharto terhadap kelompok pembangkang ini sangat keras. Mereka dianggap sebagai ancaman dan dihadapi dengan berbagai tindakan pengucilan.
Rezim Soeharto merencanakan penghukuman kepada penandatangan Petisi 50. Salah satu ancamannya adalah dengan mengasingkan jenderal pembangkan ke Pulau Buru sebagai tahanan politik.
Selain itu, mereka dikucilkan dari kegiatan kemasyarakatan. Media cetak dilarang mengutip ucapan mereka, nama mereka dicoret dari daftar undangan resmi pemerintah, termasuk acara peringatan hari kelahiran ABRI setiap 5 Oktober.
(Fakhrizal Fakhri )