“Sing bener ketenger, sing salah seleh (Siapa berbuat benar dia akan terbukti, siapa berbuat salah dia akan lengser. Becik ketitik, olo ketoro (yang baik terlihat, yang buruk tampak).
“Sopo kang mbibiti olo, wahyune bakal sirno (yang menanam keburukan, kebahagiannya akan sirna).”
“Inilah ajaran Prabu Joyoboyo. Agar kita selalu eling lan waspodo (ingat dan waspada),” katanya.
Purwadi mengungkapkan, Jayabaya menggambarkan perubahan besar dalam masyarakat dengan ungkapan
"Kali ilang kedhunge, pasar ilang kumandhange," yang berarti "Sungai kehilangan kedalamannya, pasar kehilangan gemanya."
Jayabaya memperoleh kebijaksanaannya dari nasihat pujangga seperti Empu Sedah, Empu Panuluh, dan Empu Darmojo. Empu Sedah mengajarkan tentang Sang Pencipta sebagai tempat kembali (sangkan paraning dumadi), Empu Panuluh memberikan ilmu bertempur yang sakti (joyo kawijayan guno kasantikan), dan Empu Darmojo mengajarkan perumusan kebijakan (tata praja).
Selain itu, Jayabaya juga belajar dari Haji Syekh Syamsujen, guru agama dari Mesir yang didatangkan oleh kakeknya, Sinuwun Prabu Kamesworo, pada tahun 1105. Syekh Syamsujen mengajarkan berbagai bentuk tirakat seperti topo kungkum (berendam), topo pendhem (tidak membanggakan kebaikan), dan topo ngrowot (tidak makan nasi), yang semuanya membantu Jayabaya dalam penempaan spiritual.
Pandangan Jayabaya diharapkan dapat menjadi panduan moral bagi masyarakat modern dalam menghadapi tantangan dan perubahan zaman. Ajarannya menegaskan bahwa perbuatan baik dan buruk akan mendapatkan balasan yang setimpal: "Sopo kang mbibiti olo, wahyune bakal sirno," yang berarti "Siapa menanam keburukan, kebahagiaannya akan sirna."
Dengan demikian, ajaran Jayabaya mendorong masyarakat untuk selalu bertindak benar dan berhati-hati dalam menghadapi segala perubahan zaman.
(Arief Setyadi )