Turut hadir para Aktivis Cipayung Nasional dan mantan Ketua Umum, antara lain politisi Senior Theo Sambuaga, Muhammad Qodari, Ahmad Doli Kurnia, Willem Wandik, Melki Laka Lena, Anas Urbaningrum, Taufik Hidayat, Paulus Januar, Aminuddin Ma'ruf, Twedy Noviadi Ginting, Arief Rosyid, Kartika Nur Rakhman, Chrisman Damanik, Sahat MP Sinurat, Karman BM, Theo Cosner Tambunan, Aminullah Siagian, Munawar Khalil, Mutahdin Sabilli, Ahmad Nawawi, para Ketum Cipayung Plus, dan lainnya.
Di tempat yang sama Ketua Umum Forum Aktivis Nasional (FAN) Bursah Zarnubi mengaku bangga bisa menjadi bagian dalam kegiatan tersebut. Dirinya mengenal dekat Akbar Tanjung saat sama-sama menjadi aktivis. Dia juga menjelaskan perihal kegiatan tersebut.
"Saat itu kita berpikir mau dibawa kemana Forum Aktivis Nasional. Tiba-tiba Maruarar Sirait nyeletuk, eh, nanti program pertama kita menyematkan penghormatan (tribute to) Akbar Tandjung, Maestro Aktivis Indonesia. Dengan senang hati Qodari, Alumni HMI, menyambut program ini. Sebagai alumni HMI, saya juga bangga karena yang mengusulkan ini dari Ara sebagai aktivis GMKI," bebernya.
Karena itu, para pendiri FAN lainnya sepakat dan antusias menyambut pencanangan program ini sebagai program pertama FAN.
"Dan kami semua bangga Akbar Tandjung ditempatkan secara terhormat oleh Forum Aktivis Nasional. Dan secara kebetulan FAN ini didirikan oleh kumpulan para aktivis berlatar belakang Kelompok Cipayung Plus," jelasnya.
"Bang Akbar adalah salah satu tokoh di balik pendirian Kelompok Cipayung ini. Cipayung, menunjuk sebuah tempat ke arah Puncak, dimana Akbar Tandjung (Ketum PB HMI), Suryadi (Ketum GMNI), Binsar Sianipar (Ketum GMKI), dan Chris Siner Key Timu (Ketum PMKRI), sering berkumpul. Di Cipayung ini, mereka rutin diskusi membicarakan berbagai persoalan bangsa, masalah masalah kepemudaan dan mahasiswa," jelasnya.
Kata Bursah, bahwa Akbar banyak mempengaruhi pandangan generasi muda dalam konteks memoderasi pemikiran anak-anak muda untuk memajukan demokrasi dan faham kebangsaan. Karena itu ia mendirikan Institute Akbar Tandjung. Pesertanya berasal dari anak-anak muda Kelompok Cipayung. Ini membuktikan bahwa Akbar aktor sekaligus maestro yang tak henti-hentinya membimbing dan mengkader adik-adiknya.
Melihat peran Akbar ini, kami pastikan, ia salah satu tokoh yang mempengaruhi jalannya sejarah mahasiswa dan kepemudaan, setidaknya 50 tahun terakhir, sejak deklarasi Kelompok Cipayung 1972, terutama pengembangan pemikiran kebangsaan dan demokrasi di kalangan generasi muda.
"Kami memilih Akbar sebagai Maestro bukan saja karena keterkenalannya, keramahannya dan kedermawannya saja," katanya singkat.
(Awaludin)