Sementara Nasaruddin meluncurkan tiga buku berjudul "Nasionalisme Indonesia," "Moderasi Beragama dan Tantangan Masa Depan Umat," serta "Fikih Ekonomi Kontemporer."
Buku "Nasionalisme Indonesia" menurut Nasaruddin, merupakan pengembangan dari skripsi S1-nya. "Nasionalisme Indonesia itu salah satu buku terbaik saya," kata Nasaruddin.
Buku ini dianggap karya terbaiknya karena kaya akan referensi dari filsuf dunia seperti Plato dan Karl Marx. Namun, ia menyayangkan bahwa buku-buku serius seperti ini cenderung tidak laku di Indonesia.
"Tapi yang iseng saya tulis itu yang laku. Jadi ada sesuatu yang valid secara intelektual tapi tidak diminati masyarakat apakah grade bangsa kita seperti ini suka mengkonsumsi yang populer," katanya.
Nasaruddin menjelaskan bahwa buku "Nasionalisme Indonesia" membahas bagaimana setiap elemen bangsa harus memperlakukan budaya luar. Budaya asing tidak boleh dianggap sebagai imigran gelap yang harus ditolak, namun juga tidak semua harus diterima tanpa selektif.
"Jadi kalau kita anggap sebagai imigran gelap, akan menghasilkan bangsa itu sendiri. Tapi juga jangan sebaliknya, apapun yang datang dari luar itu kita terima tanpa selektif. Justru itu saya kemukakan di sini nasionalisme di Indonesia itu kayak apa," pungkasnya.
(Arief Setyadi )