Kisah Intel Disebar di Jakarta, dari Kebon Sirih hingga Priok

Arief Setyadi , Jurnalis
Jum'at 19 Juli 2024 06:05 WIB
Ilustrasi TKR Resimen V Cikampek (Foto: Repro Buku: Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi)
Share :

JAKARTA - Pasukan sekutu datang ke Jakarta memaksa pemerintah Republik Indonesia yang baru berdiri untuk bersikap kooperatif. Pada 19 November 1945, pemerintah menyetujui kesepakatan yang mengharuskan tentara republik meninggalkan Jakarta.

Kendati kantor penghubung masih tetap beroperasi di Jalan Cilacap Nomor 5, Jakarta Pusat. Kala itu, Jakarta dijadikan pusat diplomasi, sementara elemen tentara republik, yakni Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Resimen V Jakarta Raya harus pindah meskipun masih bertanggung jawab atas wilayah teritorial yang mencakup Jakarta dan sekitarnya.

Letkol Moeffreni Moe’min, Komandan Resimen V memilih Cikampek sebagai markas baru mereka. Meski secara resmi meninggalkan Jakarta dengan garis demarkasi yang disepakati berada di Kali Cakung, Letkol Moeffreni tetap bertanggung jawab atas wilayah Jakarta, Bekasi, Karawang, hingga Cikampek.

Beberapa elemen militer tetap beroperasi di sana. Anggota pasukan beroperasi dengan berpakaian "preman" sebagai intelijen. Meski Moeffreni mematuhi kesepakatan antara sekutu dan pemerintah untuk meninggalkan Jakarta, dia tetap menugaskan satu kompi anggotanya sebagai intelijen.

“Pasukan (intel) ini bukan berupa kesatuan bersenjata yang komplet, melainkan di samping hanya bersenjata pistol genggam, juga sebagai intern force,” terang Letkol Moeffreni dalam buku ‘Jakarta-Karawang-Bekasi dalam Gejolak Revolusi: Perjuangan Moeffreni Moe’min’.

Satu kompi pasukan intelijen dipimpin komandan lapangan Kapten Supangat. Keberadaan mereka dirahasiakan dari berbagai pihak, termasuk kepolisian. Hanya Wali Kota Jakarta saat itu, Soewirjo, yang diberitahu mengenai keberadaan mereka.

Pasukan intel ini dibagi menjadi enam sektor dalam operasinya. Sektor I/Tanah Abang dipimpin Mahboeb dengan markas di Jalan Tanah Rendah 14. Sektor II/Kampung Bali dipimpin M Nawawi dan berpusat di Jalan Kebon Sirih.

Sektor III/Petojo dipimpin Saleh Soeroto dengan markas di Jalan Kamboja. Sektor IV/Kebon Sirih di bawah pimpinan Drahman berpusat di Jalan Kebon Sirih Nomor 65 (sekarang Wisma Penta). Sektor V/Sawah Besar dipimpin Moestafa Doellah, dan Sektor VI/Tanjung Priok dipimpin Sanjoto.

Tugas utama mereka adalah melindungi warga Jakarta dari aksi NICA (Nederlandsch-Indische Civiele Administratie) yang bekerja sama dengan sekutu, serta memantau aktivitas NICA dengan berbagai operasi berbeda.

Beberapa di antaranya menyusup ke berbagai instansi dan stasiun radio, menjadi mata-mata di kampung-kampung, serta mengumpulkan dan mengirim senjata serta perlengkapan medis yang ditemukan atau dirampas untuk dibawa ke Cikampek.

Rumah Aboe Thajeb sering digunakan sebagai gudang sementara sebelum barang-barang tersebut dikirim dengan kereta api (KA) dari Stasiun Jakarta Kota atau Stasiun Manggarai. Kedua stasiun tersebut dioperasikan oleh para pemuda yang telah bersumpah setia kepada republik. Kadang-kadang, jasa Palang Merah Indonesia (PMI) juga dimanfaatkan.

Kartini, salah satu anggota PMI, sering membantu pasukan intel dengan membawa suplai senjata menggunakan mobil PMI.

“Karena (Kartini) lincah berbahasa Inggris, maka saat diperiksa di perbatasan, dia katakan tentara sekutu tidak berhak memeriksa mobil PMI yang berisi obat-obatan. Sesampainya di Cikampek, dia (Kartini) pasti bercerita tentang kesulitannya itu,” kenang Moeffreni.

Markas masing-masing sektor tidak permanen dan selalu berpindah-pindah untuk menjaga kerahasiaan. Dalam operasinya, tentu tidak semuanya berjalan lancar. Tidak jarang ada anggota intel yang tertangkap Belanda, hingga akhirnya disiksa dan ditawan.

Meski demikian, gerakan mereka mendapat simpati dari tentara sekutu yang berasal dari Muslim India.

Tentara British India Muslim yang ditempatkan sekutu di wilayah Kampung Bali sering kali membantu dan melindungi anggota intel dari razia atau penggerebekan Belanda.

Pasukan intel di Jakarta berkomunikasi dengan Kepala Staf Resimen V menggunakan kode sandi. Anggota intel sering menginformasikan adanya konvoi KA sekutu yang membawa logistik dari Jakarta ke Bandung.

Berdasarkan informasi tersebut, pasukan Resimen V kadang melakukan penghadangan, yang tidak jarang melibatkan baku tembak. Salah satu operasi sukses terjadi pada 21 November 1945 di Dawuan, di mana 21 gerbong berisi makanan, obat-obatan, dan senjata berhasil direbut oleh pasukan Resimen V.

Selain merampas senjata, penghadangan ini juga dimaksudkan untuk mengurangi beban tentara republik di Bandung Selatan yang tengah bertempur dengan sekutu. Dengan mencegat logistik sekutu, kekuatan sekutu dalam melawan tentara republik dapat dikurangi.

Sementara suplai logistik berpindah tangan, tawanan sekutu ditahan tetapi tidak dibunuh. Mereka dijadikan alat tukar-menukar tawanan di Jakarta untuk membebaskan tokoh-tokoh penting, seperti Sekretaris Wali Kota Jakarta Mr. Supangat, pemuda Chairul Anwar, Kepala Stasiun Jakarta Kota, dan beberapa tokoh lainnya.

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya