Meski demikian, gerakan mereka mendapat simpati dari tentara sekutu yang berasal dari Muslim India.
Tentara British India Muslim yang ditempatkan sekutu di wilayah Kampung Bali sering kali membantu dan melindungi anggota intel dari razia atau penggerebekan Belanda.
Pasukan intel di Jakarta berkomunikasi dengan Kepala Staf Resimen V menggunakan kode sandi. Anggota intel sering menginformasikan adanya konvoi KA sekutu yang membawa logistik dari Jakarta ke Bandung.
Berdasarkan informasi tersebut, pasukan Resimen V kadang melakukan penghadangan, yang tidak jarang melibatkan baku tembak. Salah satu operasi sukses terjadi pada 21 November 1945 di Dawuan, di mana 21 gerbong berisi makanan, obat-obatan, dan senjata berhasil direbut oleh pasukan Resimen V.
Selain merampas senjata, penghadangan ini juga dimaksudkan untuk mengurangi beban tentara republik di Bandung Selatan yang tengah bertempur dengan sekutu. Dengan mencegat logistik sekutu, kekuatan sekutu dalam melawan tentara republik dapat dikurangi.
Sementara suplai logistik berpindah tangan, tawanan sekutu ditahan tetapi tidak dibunuh. Mereka dijadikan alat tukar-menukar tawanan di Jakarta untuk membebaskan tokoh-tokoh penting, seperti Sekretaris Wali Kota Jakarta Mr. Supangat, pemuda Chairul Anwar, Kepala Stasiun Jakarta Kota, dan beberapa tokoh lainnya.
(Arief Setyadi )