Bergerak dari Bawah, Yayasan Agung Jaya Mandiri Soroti Kemiskinan di Tengah Gemerlapnya Bali

Arief Setyadi , Jurnalis
Kamis 08 Agustus 2024 15:06 WIB
Yayasan Agung Jaya Mandiri menggelar sarasehan menyoroti kemiskinan di Bali (Foto: Ist/Dok)
Share :

JAKARTA - Jumlah penduduk miskin di Karangasem, Bali yang mencapai 27 ribu lebih harus menjadi perhatian sangat serius dari semua pihak. Sebab, di Bali seharusnya tidak ada orang miskin.

Demikian dikatakan para pendiri Yayasan Agung Jaya Mandiri menjelang acara peresmian yayasan yang dijadwalkan akan dilaksanakan di Amlapura pada Kamis (8/8/2024) pagi, dikutip dari siaran persnya.  

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan hingga akhir 2023 angka kemiskinan di  Karangasem mencapai 27 ribu lebih atau 6,56% dari 533.742 penduduk Karangasem. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Bali.  

Sementara, angka indeks pembangunan manusia (IPM) Karangasem meskipun naik dari 69,48 pada 2022 menjadi 70,09 pada 2023. Namun, angka itu masih merupakan yang terendah di Bali.  

IPM adalah ukuran ringkas rata-rata keberhasilan dimensi utama pembangunan manusia, yaitu umur panjang dan hidup sehat, mempunyai pengetahuan dan standar hidup layak. IPM juga menjadi indikator penting untuk mengukur keberhasilan pembangunan kualitas hidup manusia.
 
Data-data ini tentu harus menjadi salah satu bahan evaluasi paling mendesak bagi seluruh pemangku kepentingan di Karangasem. Sebab, kondisi tersebut menunjukkan kenyataan yang jauh dari visi yang tertuang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Daerah Kabupaten Karangasem Tahun 2006- 2025, yakni “Terwujudnya Masyarakat Karangasem yang Sejahtera, dan Berkeadilan Berdasarkan Budaya Bali” (Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem Nomor 7 Tahun 2006). 

Kondisi memprihatinkan di Karangasem ini juga masih jauh dari cita-cita mewujudkan kehidupan Krama Bali yang sejahtera dan bahagia, sakala-niskala, seperti yang tercantum di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun 2005-2025.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Agung Jaya Mandiri, I Wayan Laba mengatakan, kondisi ini juga dapat disebut sebagai ironi dari gemerlapnya pembangunan pariwisata di Bali, yang semakin jauh dari harapan warga Bali.  
 
“Semestinya di daerah ini tidak ada lagi kemiskinan seperti yang dialami oleh warga di Karangasem. Kontribusi besar devisa melalui sektor pariwisata yang diberikan daerah ini kepada negara seakan hiasan yang tidak menyentuh harkat hidup warga Bali secara adil dan merat," ujar I Wayan Laba.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya