Netanyahu mengatakan Hamas saat ini menahan 59 tawanan: 24 masih hidup dan 35 sudah meninggal.
Hamas sebelumnya menolak "rumusan" Israel untuk memperpanjang fase pertama gencatan senjata selama Ramadhan dan Paskah dan sebaliknya menyerukan fase kedua untuk dilaksanakan seperti yang disepakati semula.
Organisasi-organisasi kemanusiaan telah berulang kali mengatakan gencatan senjata harus dilanjutkan jika mereka ingin memberikan bantuan yang sangat dibutuhkan kepada warga Palestina di daerah kantong pantai itu, yang telah hancur akibat perang selama 17 bulan.
“Dampak dari akses kemanusiaan yang aman dan berkelanjutan sudah jelas,” kata Program Pangan Dunia dalam sebuah posting di X pada Sabtu.
“Gencatan senjata harus dipertahankan. Tidak ada jalan kembali.”
Ratusan truk bantuan telah memasuki Gaza setiap hari sejak gencatan senjata dimulai pada 19 Januari. Namun penduduk mengatakan harga naik dua kali lipat pada Minggu ketika berita penutupan menyebar dan orang-orang berlomba-lomba untuk menimbun.
“Semua orang khawatir,” kata Sayed al-Dairi, seorang pria yang tinggal di Kota Gaza, kepada The Associated Press.
Penolakan Netanyahu untuk beralih ke fase kedua perjanjian gencatan senjata juga dikritik di Israel, karena ratusan warga Israel berdemonstrasi di luar rumah beberapa menteri pemerintah pada hari Minggu untuk menuntut penyelesaian gencatan senjata Gaza dan perjanjian pertukaran tahanan.
"Israel menandatangani perjanjian yang seharusnya memulai negosiasi untuk fase kedua pada hari ke-16 fase pertama. Namun, Israel telah menghindari negosiasi ini," Yair Golan, pemimpin Partai Demokrat, mengatakan kepada media Israel Maariv.
"Mereka yang ingin membebaskan para sandera perlu memahami satu hal sederhana – kita perlu mencapai gencatan senjata jangka panjang dan menarik diri dari sebagian besar wilayah Gaza. Netanyahu terus mencari cara untuk membuat semua warga Israel berada di bawah tekanan luar biasa dan dalam keadaan darurat, karena hal itu sesuai dengan kebutuhan politiknya."
(Rahman Asmardika)