JAKARTA – Tanggal 18 Februari mencatat sejumlah peristiwa penting dalam sejarah dunia dan Indonesia. Mulai dari tragedi kemanusiaan di Kalimantan Tengah, penemuan benda langit di tata surya, hingga momen kemerdekaan sebuah negara di Afrika Barat.
Berikut rangkuman peristiwa bersejarah yang terjadi pada 18 Februari:
1478 – Pangeran Clarence Dieksekusi di Menara London
Pada 18 Februari 1478, George Plantagenet, yang dikenal sebagai Pangeran Clarence, dihukum mati secara tertutup di Menara London. Ia dieksekusi atas tuduhan berkhianat terhadap kakaknya sendiri, Edward IV. Peristiwa ini menjadi salah satu episode kelam dalam dinamika politik Kerajaan Inggris abad ke-15.
Pada 18 Februari 1745, Kota Surakarta resmi didirikan di tepi Bengawan Solo dan menjadi ibu kota Kasunanan Surakarta. Kota yang juga dikenal dengan nama Solo ini kini berstatus sebagai kota otonom di Provinsi Jawa Tengah.
Dengan luas sekitar 44 kilometer persegi, Surakarta berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Boyolali di utara, Karanganyar dan Sukoharjo di timur dan barat, serta Sukoharjo di selatan. Kota ini dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa hingga saat ini.
1930 – Penemuan Pluto
Pada 18 Februari 1930, astronom Amerika Serikat Clyde Tombaugh mengumumkan penemuan Pluto berdasarkan foto antariksa yang diambil pada Januari tahun yang sama. Pluto awalnya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan dalam tata surya.
Namun, pada 24 Agustus 2006, International Astronomical Union memutuskan bahwa Pluto tidak lagi dikategorikan sebagai planet, melainkan sebagai planet katai. Hingga kini, Pluto dikenal sebagai salah satu objek terbesar di sabuk Kuiper.
1965 – Gambia Merdeka dari Britania Raya
Tanggal 18 Februari 1965 menandai kemerdekaan Gambia dari Britania Raya. Negara kecil di Afrika Barat ini memiliki wilayah daratan yang hampir seluruhnya dikelilingi Senegal, kecuali di bagian barat yang berbatasan dengan Samudra Atlantik.
Gambia dikenal sebagai negara terkecil di Afrika daratan dan memiliki bentuk geografis unik mengikuti aliran Sungai Gambia.
2001 – Konflik Sampit Pecah, Ratusan Korban Jiwa
Pada 18 Februari 2001, konflik antaretnis pecah di Kota Sampit, Kalimantan Tengah. Peristiwa yang dikenal sebagai Konflik Sampit ini melibatkan suku Dayak dan warga migran Madura.
Kerusuhan bermula dari insiden penyerangan terhadap dua warga Madura dan kemudian meluas ke berbagai wilayah di Kalimantan Tengah, termasuk ibu kota provinsi, Palangka Raya. Konflik tersebut menyebabkan lebih dari 500 orang meninggal dunia dan lebih dari 100.000 warga terpaksa mengungsi.
Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah Indonesia pascareformasi.
2005 – Dua Wartawan Indonesia Disandera di Irak
Pada 18 Februari 2005, dua jurnalis Indonesia, Meutya Hafid dan Budiyanto, diculik oleh kelompok bersenjata saat bertugas di Irak. Mereka bekerja untuk stasiun televisi swasta Indonesia.
Presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, menyatakan bahwa keduanya murni menjalankan tugas jurnalistik dan tidak terkait kepentingan politik apa pun. Setelah tiga hari dalam penyanderaan, keduanya akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005.
Pengalaman tersebut kemudian dibukukan Meutya dalam karya berjudul 168 Jam dalam Sandera.
(Awaludin)