Dalam paparannya, Bonnie mengangkat kisah Desa Badur, Lebak, Banten—latar novel Max Havelaar karya Multatuli yang mengkritik praktik kolonial abad ke-19.
Ia menceritakan dokumentasi wartawan Belanda, Arjan Onderdenwijngaard, yang merekam kehidupan anak-anak Badur pada 1987. Tiga dekade kemudian, Bonnie kembali menelusuri kehidupan mereka dan mendapati kondisi sosial yang tidak banyak berubah.
Rata-rata lama sekolah di wilayah tersebut, kata Bonnie, masih sekitar 6,5 tahun atau setara lulusan SD.
“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia berulang dalam bentuk yang berbeda,” ujarnya.
Bonnie kemudian merujuk pada konsep “kolonialitas” dari sosiolog Peru, Aníbal Quijano.
“Kolonialisme secara fisik sudah selesai. Tapi kolonialitas—cara berpikir, struktur ekonomi, dan relasi kuasa yang dibangun sejak era kolonial—masih berlangsung sampai hari ini,” paparnya.
Menurut Bonnie, kolonialitas tercermin dalam dominasi standar pengetahuan yang berpusat pada Eropa, ketimpangan ekonomi, hingga perilaku pejabat publik yang masih menunjukkan jejak feodalisme.
Ia bahkan menyinggung kebiasaan iring-iringan kendaraan pejabat dengan pengawalan patwal yang, menurutnya, memiliki kemiripan dengan praktik feodal yang digambarkan dalam Max Havelaar.
“Kebiasaan pejabat diiring-iring pakai patwal itu bisa jadi warisan budaya feodal. Dalam Max Havelaar, keluarga Bupati Cianjur ketika berkunjung diiringi kereta kuda dengan pengawal lengkap. Polanya mirip,” pungkasnya.
(Awaludin)