Pedang yang Ditempa Mortir 

Opini, Jurnalis
Selasa 10 Maret 2026 18:06 WIB
Ahmad Setyono (foto: dok ist)
Share :

Jejak Medan Tempur

Tak hanya ahli di bidang agama (syarat utama Pemimpin Tertinggi), Mojtaba juga memiliki latar belakang militer khusunya Perang Iran-Irak. Pada tahun 1986, ia bertugas di garis depan perang pada usia 17 tahun sebagai sukarelawan dan bagian dari Batalyon Habib bin Mazahir dari Divisi ke-27 Mohammad Rasool-Allah. Mojtaba berpartisipasi dalam beberapa operasi militer besar, termasuk Beyt ol-Moqaddas 2, 3, dan 4,  Valfajr 10 dan Mersad (Pertempuran besar terakhir perang pada tahun 1988).

Menurut Majed, dengan memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran tidak mengakhiri warisan Ayatollah Ali Khamenei, melainkan memperbaruinya. Dalam perspektif tertentu, Khamenei menjadi lebih muda: ideologi yang sama, tekad yang sama, kini diteruskan oleh pemimpin baru dan generasi baru. Menyingkirkan seorang pemimpin tidak mengakhiri sistem, artinya itu hanya membawa pemimpin lain di tempatnya, yang lebih muda, lebih tangguh, dan sama bertekadnya. 

Keyakinan bahwa membunuh seorang pemimpin dapat mengakhiri sebuah gerakan adalah kesalahpahaman sejarah. Gerakan tidak mati bersama individu. Apalagi Mojtaba dikenal beraliran garis keras dan tanpa kompromi. Banyak kalangan sepakat, pembunuhan Ayatullah Ali Khamenei adalah blunder besar dan miskalkukasi yang dibuat Trump dan Netanyahu. Alih-alih ini mendorong jatuhnya rezim Iran, malah menguatkan dukungan rakyat Iran dalam perang ini.
Seperti kutipan Moeini di awal tulisan ini, “jadi kita telah menyia-nyiakan miliaran dan mempertaruhkan bencana global untuk menggantikan Khamenei dengan Khamenei. Menjadikan sang ayah sebagai martir, menggalang basis Republik Islam, dan memaksa sistem untuk memilih penerus di masa perang—putra yang lebih garis keras dan anti-Barat yang kemungkinan besar akan terobsesi untuk membalaskan dendam atas kematian seluruh keluarganya.” Tampaknya Mojtoba akan memimpin Iran dalam perang, seperti ungkapan Douglas MacArthur: "It is fatal to enter a war without the will to win it."
 

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya