JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum laporan kejadian bencana pada periode 10-11 Maret 2026. Selama periode tersebut, cuaca ekstrem pemicu bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Kejadian pertama, hujan lebat disertai angin kencang melanda wilayah Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur, Senin 9 Maret 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan 5 kepala keluarga (KK) dengan total 5 unit rumah di Desa Kepung, Kecamatan Kepung mengalami kerusakan ringan.
Kejadian ini terjadi di tengah penetapan status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Provinsi Jawa Timur yang telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/845/013/2025.
Status siaga ini mencakup risiko banjir, tanah longsor, puting beliung, dan rob selama 155 hari, mulai 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026, sehingga koordinasi antarlembaga tetap dioptimalkan untuk mengantisipasi bencana susulan.
“Penanganan saat ini masih berlangsung untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan bantuan dan kondisi rumah yang rusak segera diperbaiki,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Rabu (11/3/2026).
Masih di Provinsi Jawa Timur, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang juga melanda Desa Sidorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Senin 9 Maret, sekitar pukul 17.30 WIB. Peristiwa ini mengakibatkan 6 kepala keluarga terdampak, dengan 4 unit rumah mengalami kerusakan ringan dan 2 unit rumah mengalami kerusakan sedang.
Kejadian ini berada dalam konteks status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Provinsi Jawa Timur yang telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/845/013/2025. Status siaga ini mencakup potensi bencana banjir, tanah longsor, puting beliung, dan rob selama 155 hari, mulai 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.
Kemudian, hujan lebat dan angin kencang melanda Dusun Belut, Desa Ngumpul, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Minggu 8 Maret sekitar pukul 14.00 WIB. Peristiwa ini menyebabkan kerusakan pada beberapa rumah, dengan 7 kepala keluarga terdampak. Total terdapat 7 unit rumah yang mengalami kerusakan ringan.
Kejadian ini terjadi di tengah status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi di Provinsi Jawa Timur yang ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 100.3.3.1/845/013/2025. Status siaga ini berlaku selama 155 hari, mulai 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026, untuk menghadapi potensi bencana banjir, tanah longsor, puting beliung, dan rob.
Di Provinsi Jawa Barat, hujan deras dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang melanda wilayah Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, pada Selasa 10 Maret 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Peristiwa cuaca ekstrem ini mengakibatkan kerusakan pada sejumlah atap rumah milik warga di Desa Tamansari dan Desa Sukaluyu.
Peristiwa tersebut mengakibatkan 12 kepala keluarga atau 55 jiwa terdampak. Dari jumlah tersebut, 1 kepala keluarga yang terdiri dari 4 jiwa terpaksa mengungsi akibat kondisi rumah yang tidak memungkinkan untuk ditempati. Kerugian material meliputi 1 unit rumah mengalami rusak berat dan 11 unit rumah mengalami rusak ringan.
Kejadian ini berlangsung dalam masa Status Siaga Darurat Bencana Banjir, Cuaca Ekstrem, Abrasi, dan Tanah Longsor di Provinsi Jawa Barat sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 360/Kep.626-BPBD/2025 yang berlaku sejak 15 September 2025 hingga 30 April 2026.
Selanjutnya, di Provinsi Kalimantan Selatan banjir melanda wilayah Kabupaten Banjar, tepatnya di Desa Alalak Padang, Kecamatan Cintapuri Darussalam. Peristiwa ini mengakibatkan 29 kepala keluarga atau 61 jiwa terdampak.
Kerugian material tercatat meliputi 32 unit rumah terdampak dan 2 unit fasilitas daerah (fasdah) mengalami kerusakan. BPBD Kabupaten Banjar segera melakukan koordinasi dengan instansi terkait serta melakukan asesmen lokasi terdampak untuk menilai kondisi warga dan infrastruktur.
Sementara itu, kebakaran hutan melanda Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, pada Minggu 8 Maret hingga Senin 9 Maret. Kebakaran tersebut menghanguskan sekitar 25 hektar lahan yang tersebar di beberapa desa dan kelurahan di wilayah ini.
Adapun lokasi yang terdampak meliputi Kecamatan Teluk Sebong, Desa Pengudang, serta Kecamatan Gunung Kijang yang mencakup Desa Gunung Kijang dan Kelurahan Kawal.
Total 25 hektare lahan terbakar, dengan rincian sebagai berikut: 10 hektar di Desa Pengudang, 3 hektare di Kelurahan Kawal, 5 hektare di Desa Gunung Kijang, 2 hektar di Lintas Timur Toapaya Selatan, dan 5 hektare di perbatasan Kelurahan Kawal dan Desa Gunung Kijang.
“Beruntung, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan akibat kejadian ini,” ucapnya.
Selanjutnya, kebakaran lahan melanda Gampong Alue Raya dan Gampong Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, Senin 9 Maret pukul 09.45 WIB. Kebakaran ini menghanguskan sekitar 2 hektare lahan.
“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwajib, namun upaya penanganan segera dilakukan untuk mencegah perluasan area terdampak,” katanya.
Penanganan kebakaran melibatkan berbagai unsur, termasuk Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD, TNI, Polri, serta Tim PT PAAL. TRC BPBD melakukan penyekatan di Gampong Suak Pante Breuh, sementara tim PT PAAL memfokuskan pemadaman di Gampong Alue Raya. BPBD Aceh Barat bersama tim damkar Mako BPBD mengambil langkah awal dengan memutus arah penjalaran api.
“Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, dan upaya mitigasi terus dilakukan agar risiko kebakaran susulan dapat diminimalkan,” ujarnya.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat diharapkan memantau perkembangan informasi cuaca dari instansi berwenang, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, serta segera melaporkan apabila ditemukan titik api maupun potensi bahaya di lingkungan sekitar.
(Arief Setyadi )