"BMKG bertugas menyuplai informasi, namun kewenangan untuk menghentikan pelayaran saat status mencapai level ‘Awas’ sepenuhnya berada di tangan KSOP," terangnya.
Faisal juga menyoroti kesiapan infrastruktur observasi BMKG di wilayah Banten. Dari sekitar 10.800 Alat Utama (Alut) BMKG yang tersebar di seluruh Indonesia, Provinsi Banten termasuk wilayah dengan dukungan fasilitas observasi yang cukup lengkap.
Ia menambahkan, BMKG juga mengoperasikan Automatic Weather Station (AWS) Maritim di Merak, Ciwandan, dan Bakauheni, serta AWS yang terpasang di kapal penyeberangan seperti KMP Legundi. Selain itu, terdapat radar maritim di Merak dan Cinangka yang bekerja selama 24 jam secara real-time untuk memantau potensi cuaca ekstrem, kondisi gelombang laut, hingga potensi gempa bumi dan tsunami.
"BMKG mengimbau seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk selalu memperbarui informasi cuaca, peringatan dini, serta kondisi potensi risiko melalui kanal resmi BMKG agar langkah antisipasi dapat dilakukan dengan cepat dan tepat," tuturnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)