JAKARTA - Kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan rudal balistik ke Israel. Ini kali pertama kelompok tersebut melancarkan serangan sejak meletusnya perang antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Juru Bicara Militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengumumkan serangan itu pada Sabtu (28/3/2026), melalui televisi satelit Al Masirah.
"(Serangan-red) akan berlanjut hingga tujuan yang dinyatakan tercapai, seperti yang dinyatakan dalam pernyataan sebelumnya oleh angkatan bersenjata, dan hingga agresi terhadap semua front perlawanan berhenti," kata Saree, melansir Al Jazeera.
Militer Israel mengatakan telah mencegat satu rudal.
Serangan itu terjadi beberapa jam setelah Saree memberi sinyal dalam pernyataan yang samar pada Jumat bahwa pihaknya akan bergabung dalam perang yang telah mengguncang Timur Tengah dan mengejutkan ekonomi global.
Saree mengatakan pada Sabtu, Houthi menembakkan rentetan rudal balistik yang menargetkan apa yang ia gambarkan sebagai "situs militer Israel yang sensitif" di Israel selatan.
Sirene berbunyi di sekitar Beersheba dan area dekat pusat penelitian nuklir utama Israel untuk ketiga kalinya pada Jumat malam hingga Sabtu pagi ketika Iran dan Hizbullah terus menembaki Israel. Tidak ada korban jiwa atau kerusakan yang dilaporkan.
Wakil Menteri Informasi Houthi, Mohammed Mansour, mengatakan kepada media lokal pada hari Sabtu akan melakukan pertempuran secara bertahap.
“Kami melakukan pertempuran ini secara bertahap, dan menutup Selat Bab al-Mandeb adalah salah satu pilihan kami,” ucapnya.
Berdasarkan laporan Al Jazeera dari Sanaa, potensi blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang terkait dengan Israel yang melewati Selat Bab al-Mandeb akan merugikan ekonomi Israel, karena sekitar 30 persen impornya melewati jalur air di Laut Merah tersebut.
Keterlibatan Houthi dalam perang AS-Israel melawan Iran akan mempersulit pengerahan USS Gerald R Ford, kapal induk yang berlabuh di Kreta pada hari Senin untuk perbaikan.
Mengirim kapal induk kembali ke Laut Merah dapat menariknya ke dalam tempo serangan tinggi yang sama seperti yang dialami USS Dwight D Eisenhower pada tahun 2024 dan USS Harry S Truman dalam kampanye Amerika tahun 2025 melawan Houthi.
(Erha Aprili Ramadhoni)