Apa pun yang sedang dikerjakan Inggit, memasak atau menjahit, dimintanya untuk segera dihentikan. Inggit disuruhnya menemani Bung Karno, mengajak bicara, membangkitkan semangatnya, dan mencerah-ceriakannya kembali.
Ibu Amsi pula yang meminta Inggit menyiapkan makanan-makanan kesukaan Bung Karno di Bandung, di antaranya sari kacang ijo, sayur lodeh, dan lain-lain.
Ibu Amsi, ibu mertua yang sadar peran dan fungsi, dalam ikut menjaga semangat Bung Karno. Semangat menggelora untuk memerdekakan bangsanya. Di akhir riwayat, Bumi Ende-lah yang ditetapkan Tuhan, untuk memeluk jazad wanita mulia itu.
Bumi Ende dan masyarakat Ende, bisa dikata telah menyatu dengan ibu Amsi. Tanpa diminta, warga Ende, terutama kerabat dan keturunan sahabat-sahabat lama semasa pembuangan Bung Karno, masih menziarahinya.
Tragedi gempa bumi di Ende tahun 1992, mengakibatkan makam ibu Amsi terurug longsoran tanah sehingga tak lagi tampak wujud nisannya.
Adalah seorang warga bernama Abdullah, yang tinggal tak jauh dari makam ibu Amsi, spontan menyingkirkan longsoran tanah, membersihkan makam ibu Amsi, diikuti warga yang lain, sehingga makam itu tetap terjaga sampai sekarang.
(Fahmi Firdaus )