Emansipasi tidak sepenuhnya membebaskan perempuan, tetapi juga menempatkan mereka dalam struktur tuntutan yang lebih kompleks. Sebagian perempuan modern mulai mempertanyakan makna emansipasi. Berbagai konten dalam sosial media generasi milenial sebagai wanita karir dan keluarga muda, betapa mereka menampilkan kehidupan kerja dan berumah tangga yang tidak mudah. Generasi Z mulai menanggapi dalam sosial media mereka dengan konten bahwa kehidupan karir ideal bagi perempuan bukanlah yang memberikan kesempatan menjadi pemimpin, tetapi yang memberikan fleksibilitas kerja.
Makna rasa bangga perempuan juga mulai bergeser: yang sebelumnya bangga ketika menjadi wanita karir, bisa bekerja dan mencapai karir profesional cemerlang tanpa harus terpaku dengan pekerjaan rumah. Sekarang kebanggaan perempuan adalah ketika dia tidak terbelenggu dengan sistem kerja pada pekerjaan formal, hanya fokus dengan urusan rumah tangga tetapi kebutuhan primer, sekunder, dan tersiernya tercukupi. Fenomena tersebut menjelaskan adanya keinginan untuk “kembali ke rumah” atau fokus pada pengasuhan anak tidak lagi dipandang sebagai kemunduran, tetapi sebagai bentuk refleksi kritis terhadap tekanan sistemik yang dihadapi. Walaupun sering disalahartikan sebagai kemunduran, namun dalam perspektif Hegel, ini justru merupakan bagian dari proses dialektika menuju sintesis baru. Sintesis baru bukanlah kembali ke paradigma lama, melainkan membentuk makna baru emansipasi itu sendiri. Emansipasi bukan lagi dimaknai perempuan mampu setara dengan laki-laki jika berpendidikan tinggi, bekerja, dan menduduki jabatan pemimpin. Perempuan dengan karir yang prestisius dianggap lebih superior dan ironisnya sesama perempuan terkadang memandang rendah perempuan yang hanya mengurus rumah, tidak bekerja pada sektor formal.