Gencatan senjata awal antara AS dan Iran disepakati pada 8 April selama dua pekan. Namun, kesepakatan itu diwarnai perbedaan pendapat, termasuk soal keterlibatan Lebanon dan kendali atas Selat Hormuz.
Dalam upaya mengakhiri konflik, AS menuntut penghentian total program nuklir Iran serta pembatasan produksi rudal dan dukungan terhadap sekutu regional seperti Hizbullah dan Hamas.
Sebaliknya, Iran menegaskan haknya untuk memperkaya uranium sebagai bagian dari program nuklir sipil dan menolak menjadikan kemampuan militernya sebagai bahan negosiasi.
Analis dari Stimson Center, Barbara Slavin, menilai langkah Trump memperpanjang gencatan senjata sebagai upaya menutupi kegagalan diplomasi sebelumnya.
Menurutnya, AS perlu melonggarkan tuntutan dan menunjukkan keseriusan dalam mencari solusi damai agar negosiasi dapat berjalan efektif.
(Awaludin)