TEHERAN – Seorang pejabat militer senior Iran memperingatkan bahwa pertempuran baru dengan Amerika Serikat (AS) "kemungkinan besar" akan terjadi. Peringatan tersebut disampaikan oleh Mohammad Jafar Asadi setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Teheran.
Draf proposal tersebut disampaikan kepada AS melalui mediator Pakistan pada Kamis (30/4/2026) malam, menurut laporan media pemerintah, tanpa menjelaskan lebih lanjut poin-poin yang diajukan. Pada Sabtu (2/5/2026), Iran kembali mengajukan 14 proposal untuk mengakhiri perang, yang saat ini tengah dipelajari oleh Washington.
Mengutip kantor berita Fars, Asadi, seorang tokoh senior di komando pusat militer Iran, mengatakan bahwa "konflik baru antara Iran dan Amerika Serikat kemungkinan akan terjadi." Ia menekankan ketidakpastian terhadap gencatan senjata dengan menyatakan, "Bukti telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun."
Trump sebelumnya mengatakan bahwa ia "tidak puas" dengan proposal Iran. "Saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," kata Presiden AS tersebut. Konflik yang dimulai setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu, telah ditangguhkan sejak 8 April setelah gencatan senjata sementara diumumkan.
Asadi kembali mempertegas ketidakpastian mengenai gencatan senjata yang rapuh itu. Ia menilai AS memiliki rekam jejak yang buruk dalam mematuhi kesepakatan internasional.
Pada Sabtu, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan pemerintah Teheran menyatakan bahwa pihaknya siap menghadapi berlanjutnya perang dengan AS, meski tetap mengedepankan diplomasi untuk mengakhiri konflik.
“Iran siap menempuh kedua jalur tersebut untuk memastikan kepentingan dan keamanan nasionalnya. Dalam hal apa pun, Iran akan selalu mempertahankan pesimisme dan ketidakpercayaannya terhadap Amerika serta kejujurannya dalam jalur diplomasi,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Meskipun belum ada konfirmasi resmi mengenai detail rancangan proposal baru yang dikirim oleh Iran, seorang pejabat senior Iran yang dikutip oleh kantor berita Reuters mengungkapkan bahwa proposal tersebut mengusulkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Menurut pejabat tersebut, kesepakatan yang diusulkan adalah pemulihan jalur pelayaran normal melalui Hormuz dan pengakhiran blokade AS terhadap Iran sebelum pembicaraan apa pun mengenai program nuklir Teheran dimulai. Pejabat itu selanjutnya menyatakan bahwa proposal terbaru untuk menunda pembicaraan nuklir ke tahap selanjutnya bertujuan untuk memfasilitasi kesepakatan, seperti yang dilaporkan Reuters.
Iran secara efektif telah memblokir hampir semua pengiriman dari Teluk selain pengiriman dari negaranya sendiri selama lebih dari dua bulan. Sebagai respons, AS bulan lalu memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Namun, Washington telah berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan setuju untuk mengakhiri konflik tanpa jaminan yang mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
(Rahman Asmardika)